Tampilkan postingan dengan label Rene Suhardono Canoneo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rene Suhardono Canoneo. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Maret 2011

Ultimate-U

Selasa, 22 Maret 2011

Do we need permission to be successful & happy?

Rene Suhardono - CareerCoach
Penulis buku: "Your Job is NOT Your Career"

    Kartu nama adalah penemuan modernyang memudahkan orang dalam berinteraksi dan bertukar informasi diri. Saya hampir selalu membawa kartu nama saat beprgin kemanapun. Bentuk, desain, warna, dan penulisan kartu nama juga seru untuk diperhatikan dan seringkali bisa memberi sedikit gambaran mengenai pemiliknya. Namun, terkadang kartu nama beralih fungsi menjadi sarana validasi keberhasilan. Seolah kartu nama adalah lambang kesuksesan dan wujud kedudukan dalam kasta tertentu di dunia profesional.
    Mantan atasan saya adalah profesional yang meneliti"karier" dalam sebuah perusahaan besar. Kami bertemu secara berkala setiap tahun dalam acara reuni dan hampir dalam setiap pertemuan, Kartu nama Belia menunjukan peningkatan jenjang jabatan. Diawali dari vice President ke Senior Vice President dan seterusnya. Dalam sebuah kesempatan saat bertukar kartu nama, Belia tampak kaget dan tidak sepakat saat membaca kartu nama bertuliskan nama saya, nama perusahaan yang baru saya rintis, dan jabatan presiden direktur. Bagi beliau, penyebutan jabatan tidak bisa dan tidak boleh serta merta dilakukan sendiri. Jabatan harus diberikan melalui suatu proses oleh orang lain selain diri sendiri. Bagaimana dengan Anda?
    There isn't much luck in this world. We need to create our ouwn luck. saya menjumpai situasi yang mirip saat hendak menuliskan buku Your Job is NOT Your Career. Beberapa teman dan saudara meragukan penulisan buku tentang pekerjaan dan karier yang berbeda dengan pandangan umun yang berlaku di masyarakat - terlebih tanpa validasi dai instansi atau organisasi tertentu. Saya sendiri hanya mengandalkan keyakinan bahwa saya bisa. Kenapa tidak mencoba?
    Destiny is not a matter of chance- it's a matter of choice. Kalau masih tinggal bersama orang tua, memang patut minta izin untuk keluar rumah. Demikian halnya dengan minta izin masuk ke rumah orang - itu bagian dari kepatutan. Namun, segala hal terkait diri sendiri adalah sepatutnya adalah hak, kewajiban dan pilihan diri sendiri. kenapa harus menunggu validasidari orang lain untuk mengejar pilihan hidup yang sesuai dengan passion and purpose kita?
    Forget your biz card says. Everybody is an "enterpreneur".Beberapa hari lalu saya didaulat @didinu @enda, @ndorokakung, dan para sahabat penggagas obrolan langsat @obsat untuk menjadi moderator sebuah diskusi mengenai dunia ketenagakerjaan. Malam itu saya belajar banyak dari Mardi Wu @Wumard, CEO sebuah perusahaan lokalyang punya cara pandang unik soal pengelolaan tenaga kerja. Tanpa menerapkan absensi, hukuman, dan target kuantitatif, perusahaan yang dipimpin Mardi tumbuh 20 persen setiap tahun. Bagi Mardi jabatan adalah sekedar alat bantu untuk memahami diri dalam peran organisasi.
Obrolan malam itu diamini dengan keyakinan bahwa kesuksesan bukan sekedar jadi yang terbaik (to be the best), tetapi perjalanan untuk senantiasa menjadi diri sendiri yang terbaik (becoming our self- best).
    Diinspirasikan oleh sahabat saya, fotografer andal, @edwardsuhadi, saya coret kata "Presiden Direktur" dan menempatkan sebutan baru dibawah nama saya: "the man with the whistle". Validasi keberhasilan dalam bekerja adalah kebahagiaan hakiki dan konstribusi bermakna bagi orang lain. Dum tempus habemus, operemur bonum.


Sumber : http://www.kompaskarier.com/tips/rpassion/91/Do-we-need-permission-to-be-successful-happy

Ultimate-U

Senin, 28 Februari 2011

To Hire & To Be Hired


Mencari orang untuk bareng di perusahaan atau dalam sebuah tim bukan hal mudah- paling tidak untuk saya pribadi. menemukan orang yang tepat senantiasa perlu proses panjang dengan melibatkan logika, pengalaman dan intuisi. Saya tidak punya kemampuan "melihat" orang inside- out hanya dalam sebuah interview walaupun
selalu ada perasaan cocok atau tidak cocok. Saya juga tidak pernah nyaman harus menilai totalitas seseorang berdasarkan jawaban- jawabannya dalam sebuah interview. Tes psikologi atau ujian masuk kepegawaian dalam bentuk apapun memang bermanfaat, tapi juga tetap punya keterbatasa. Apakah semua jawaban "tepat" menandakan seseorang akan juga tepat untuk bekerja dalam perusahaan dan tim? Pengalalaman sering kali membuktikan tidak demikian. Jati diri seseorang adalah misteri yang hanya diketahui oleh orang yang bersangkutan dan Sang Pencipta.
    Hire new people only when it becomes really really important and painful. Kapan harus mempekerjakan? Berapa banyak orang yang harus direkrut? Tahun 2009, Google mencetak pendapatan sekitar Rp 230 triliun dengan 20.000 lebih tenaga kerja. Perusahaan dahsyat lain, 37 signals, hanya memiliki karyawan inti dan mempekerjakan freelance dari seluruh dunia untuk melayani 3 juta pengguna software! Beda perusahaan, tentu beda model bisnis dan beda kebutuhan tenaga kerja.Kebutuhan mempekerjakan orang harus dilandasi pertimbangan usaha- dan buka sekadar kebutuhan pendelegasian aktivitas.
    Fewer people forcea simple organization chart& chain of command. sering kali dalam mengisi seminar, saya mengusulkan penataan ulang tempat duduk agar lebih dekat, relaks, dan tidak formal. Banyak hal bisa dipelajari mengenai dinamika tim karakter individu saat melihat respons teman- teman saat itu. Sebagian dengan sigap langsung mengangkat dan mengatur ulang kursi tanpa perlu komando; sebagian mencari orang yang bisa didelegasikan tugas memindahkan kursi. Bagaimana dengan Anda? To be hired is more about art than science. Profesional terbaik tidak pernah sekadar mencari pekerjaan, mereka mencari peluang berkiprah dan berkontribusi. Diskusi dengan orang- orang jenis ini tidak pernah seputar dengan job description ataupun pemenuhan standard minimum.Diskusi penuh gereget dengan mereka selalu diwarnai dengan excitement menangkap peluang, kegigihan mencari alternatif solusi permasalahan, dan nextBIGThing.
    First class people hire first class people. Sahabat saya @iwetramadhan penggagas konsep dan toko @Tikshirt (Batik shirt) baru saja membuka cabang di Bali. Keberhasilan ini didukung oleh segelintir orang pilihan Iwet sendiri yang punya kepedulian atas passion dan purpose mereka.
     Don't just look for employment- seek out connection beyond everything else. Anda sedang mencari kerja? Batalkan niat itu sebelum bisa menjawab pertanyaan- pertanyaan ini: Apakah sudah punya pemahaman menganai diri sendiri? Apakah Anda bisa percaya? Apakah sudah peduli untuk menjadi diri sendiri yang terbaik?
     Bisa mempekerjakan orang yang atau dipekerjakan organisasi yang tepat adalah langkah awal yang baik. kalaupun belum berjodoh, kenapa harus gundah? Even whem you don't get hired you are still you. tetap jadi di sendiri sambil berusaha menjadi diri sendiri yang terbaik. Non ducor, duco.

Rene Suhardono- careercoach
Penulis buku: "Your Job is NOT Your Career"

Sumber : http://www.kompaskarier.com/tips/rpassion/87/To-Hire-To-Be-Hired

Kamis, 10 Februari 2011

Ultimate-U

Senin, 7 Februari 2011

Dreamers Who Do: Entrepreneur atau Karyawan atau Profesional?

KALAU Anda mengidolakan seseorang untuk waktu sekian lama dan akhirnya berkesempatan ketemu langsung, apa yang akan Anda sampaikan? Sahabat saya, @andysjarif beruntung bisa bertemu idolanya minggu ini. Sebagai seorang pemikir, entrepreneur, konsultan, petinggi perusahaan global, dan investor, idola Andy ini telah beberapa kali membidangi beberapa transaksi dahsyat di dunia teknologi-informasi glbal. Saya pun tidak bisa tidak kagum setelah memerhatikan pembawaan yang santun serta penuh perhatian dan menyimak wawasan
yang luas lagi dalam.
    Satu hal yang menginspirasi saya untuk menulis kolom ini terjadi saat saya bertanya apakah dia melihat diri sebagai entrepreneur, karyawan, atau profesional. Sang Idola dengan santai, tetapi penuh makna menjawab, "It does not matter - what matters is how you can make a difference in any those capacity. " SIngkat tapi punya signifikansi luar biasa bagi saya pribadi.
    Dreamers who do - who are they? Saya kerap meyakini kalau entrepreneur adalah kelompok yang paling pantas memegang kredo pemimpin yang sigap bertindak mereleasikan impiannya.
    Sahabat baru saya @Riyeke, penggagas gerakan UKMgoesonline adalah salah satu contoh paling sesuai. Dia punya mimpi memunculkan 1 juta orang entrepreneur independent melalui platform online. tanpa menunggu dukungan pemerintah ataupun pihak lain, riyeke dan kelompoknya telah, masih, dan akan terus bergerak cepat melakukan perubahan.
    Just do what you love on your own terms and great money will follow. Merintis usaha sendiri bisa jadi adalah manifestasi passion yang paling berani. Pilihan ini adalah HAK setiap orang, tetapi tidak diwajibkan untuk
semua orang. Idola Andy secara tidak langsung mengingatkan saya untuk melepaskan diri dari status atau lembaga yang kaya pembahasan, tetapi miskin makna.
    Which one is riskier: being secure and safe OR being happy and fulfilled? Kalau mengejar impian dengan tindakan nyata seolah milik profesi enterpreneur semata, saya juga kenal banyak sahabat yang senantiasa melakukan hal-hal dahsyat untuk merealisasikan impian mereka tanpa harus terikat pada sebutan enterpreneur. Sebut saja @agussari, pejuang lingkungan hidup yang
merelakan tidak digaji dalam 1 tahun pertama keterlibatannya dalam sebuah yayasan. Cerita lain adalah sahabat saya @dondihananto memilih untuk meninggalkan kenyamanan kehidupan korporate raksasa untuk bergabung dengan sebuah inisiatif lokal pembiayaan mikro. These are the keys: imagination, honesty, courage and care. Bagi @Agussari, @dondihananto, dan banyak teman seperti mereka, keberanian mengambil langkah dibarengi kepedulian nyata untuk berkontribusi. Kiprah lain mereka selalu saya
nantikan.
    Kalau membaca kisah orang-orang hebat dalam dunia usaha ada beberapa kesamaan utama, yaitu mereka memulai usaha karena sangat menikmati menjalankannya (baca: bukan karena uang ), sesuai dengan cara yang mereka pandang paling sesuai dan mendapatkan manfaat dari proses itu. Selain itu, sering kali mereka tidak merasa perlu menyebut diri sebagai pemilik atau entrepreneur. Vita non est vivere sed valare vita est.

Rene suhardono-CareerCoach
Penulis buku: "Your Job is NOT Your Career"

Sumber: http://www.kompaskarier.com/tips/rpassion/81/Dreamers-Who-Do-Entrepreneur-atau-Karyawan-atau-Profesional

Sabtu, 29 Januari 2011

Ultimate-U

Senin, 24 Januari 2011

Simply Your Career - Simply Your Life

 
     Belakangan saya merasa 24 jam sehari berlalu sangat cepat, bahkan terlalu cepat. Waktu tempu ke mana pun di Jakarta terasa ( dan memang ) semakin panjang. Kalau 2 tahun lalu saya hanya perlu kurang dari 1 jam ke kantor dari rumah saya yang berlokasi di "Jakarta Coret", sekarang 1,5 jam itu kalau beruntung. Tanpa memperhitungkan perjalanan dalam kota, saya bisa menghabiskan paling sedikit 3 jam atau 12,5 persen waktu dari waktu sehari dalam perjalanan. Mobil pun menjelma jadi rumah kedua lengkap dengan bantal, handuk, air minum, baju ganti, dan lain-lain. Pekerjaan, jadwal kerja, gaya hidup, dan kondisi lalu lintas menjadi sumber komplikasi hidup saya. Apakah Anda merasakan hal yang sama?
     We complicated our lives by thinking our very identy depends on our job. Sering kali kita berpikir kemaslahatan materi mutlak ditentukan oleh gaji yang diterima setiap akhir bulan. Apabila sudah demikian, kerumitan, keruwetan, dan keriuhan yang mengikuti pekerjaan seolah tidak dapat dihindarkan dan harus diterima. Pernyataan ibu saya belum lama ini terasa seperti jeweran pada masa kanak-kanak dulu: Jika prioritas kerja adalah membahagiakan keluarga, apakah masih relevan saat posisi waktu bagi keluarga justru semakin mengecil?
     The Devil's cycle: Complicated life>>Demanding life-style>>Time Consuming Job>>Work4MoneyOnly>>MORE complication in life. Apabila siklus ini terus berlanjut bisa dipastikan akan berakibat pada kelelahan luar biasa pada fisik, mental, dan spiritual. Kelelahan punya andil besar dalam memunculkan ketidakpedulian,ketakutan, dan kekhawatiran dalam diri. Bagi saya, ini bukan pilihan.
    Understanding and mastering TIME is key to simplify your career and life. Waktu adalah komoditas paling berharga dan setara bagi semua orang. Waktu dikonsumsi bersama dalam kecepatan yang sama. Satu-satunya perbedaan terletak pada pilihan dalam penggunaannya. Apakah pemanfaat waktu sudah sejalan dengan proiritas hidup selama in?
    More time for you=greater breathing room=more energy to live! Durasi 24 jam sehari, setelah dibagi untuk tidur (30 persen), kerja (30-50 persen) tidak menyisakan waktu memadai untuk diri sendiri dan semua yang kita kasihi. Tidak ada pilihan lain selain mencoba untuk membuat hidup jadi lebih simpel.
    Being happy depends on a lot less than what we would have thought-A beautiful career starts from having greater control of TIME. Saat ini saya berupaya lebih jujur terhadap prioritas saya sambil melihat peluang membuat hidup lebih simpel. Check e-mail 2 x sehari saja, bertemu orang apabila benar-benar penting, mengurangi frekuensi perjalanan dalam kota, menggunakan ojek atau TransJakarta adalah pilihan-pilihan yang saya tempuh.
    Kolom ini diketik saat menemani anak-anak saya bermain. Sungguh menyenangkan dan melegakan karena biasanya hanya sempat melihat mereka tidur. Saya berdoa lalu lintas Jakarta akanmembaik, tetapi saya juga berjanji untuk meluangkan waktu lebih banyak untuk orang-orang yang saya sayangi dibandingkan dengan jam yang dihabiskan di jalan. Tempora mutantur,et nos mutamur in illis.

Rene Suhardono-CareerCoach
Penulis buku: 'Your Job is NOT Your Career"

Sumber: http://www.kompaskarier.com/tips/rpassion/79/Simply-Your-Career-Simply-Your-Life
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...