Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Desember 2014

Doraemon “Stand By Me” at Blitz Megaplex, Bekasi Cyber Park

Ending Doraemon "Stand By Me" yang berjudul Himawari No Yakusoku

Rabu, 10 November 2014 yang lalu, aku dan kawan-kawanku dari kantor sebelumnya, kembali bertemu untuk nonton bareng film Doraemon yang berjudul Stand By Me. Film ini tayang perdana di Blitz BCP Bekasi. Aku pun turut excited karena bisa ketemu dengan temen-temen lagi. Aku keluar dari kantor sekitar pukul 4, kemudian langsung menuju Bekasi. Aku mampir dulu di kantor lama untuk berkumpul dengan Mba Asih dan Siti. Kemudian dari sana, kami langsung menuju BCP untuk bertemu dengan Mas Yogi juga. Sebelum masuk ke Blitznya, kami membeli minuman dan cemilan dulu di supermarket di lantai dasar. Setiba di dalam Blitz, tidak aku sangka bioskop sudah penuh sesak dengan pengunjung. Kami pun sampai kesulitan untuk berjalan saking sesaknya. Aku benar-benar baru mengalami Blitz BCP yang sesesak ini. Aku tidak menyangka antusiasme orang Bekasi terhadap film Doraemon sebesar ini. Mungkin karena film ini tayang perdana di Bekasi, dimana hanya diputar di bioskop Blitz saja. Ditambah menurut kabar burung, ini adalah film terakhir Doraemon. Jadilah pengunjung berbondong-bondong antusias ingin menonton film yang kartunnya sudah melegenda ini. Temanku yang sudah berusaha untuk mem-booking tiketnya sejak siang, akhirnya bisa mendapat tiketnya untuk 4 orang untuk yang jam setengah 7, walaupun letak duduknya harus terpisah. Tapi tidak apalah, yang penting bisa nonton kan. Hanya ada 2 bangku yang letaknya berjejer. Aku yang gak mau nonton sendirian ini, memilih bangku yang bisa sebelahan sama Mba Asih. Pintu teater pun belum dibuka, tapi sudah begitu banyak orang yang menunggu. Apalagi antrian tiketnya, beeuhh.. Penuh banget, dan itu belum tentu juga masih ada seat yang available. Memang untuk hari itu, jam pemutaran film terakhir dibuka hingga pukul 11 malam. Jadi, yang belum bisa dapet jam setengah 7, bisa nonton untuk yang jam berikutnya. Tapi sekali lagi, aku beruntung banget bisa dapet yang jam setengah 7. Yukata ne...

Pintu studio 1 pun dibuka, dan kami menunggu sesaaat sampai rombongan pengunjung yang lain masuk lebih dulu.  Kemudian kami pun masuk dan mencari seat masing-masing. Aku dan Mba Asih duduk di bangku A yang paling atas. Aku pikir kami akan duduk sebelahan, tapi ternyata bangku kami terlongkap 3 seat. Yah, aku pun jadi mengungkapkan rasa kecewaku karena tidak bisa menonton sebelahan, dan mesti nonton sendiri. Tapi tidak disangka, hari itu aku sungguh beruntung. Mungkin, karena pengunjung yang duduk diantara seat kami mendengar celotehku dan mereka adalah pengunjung yang baik hati, maka mereka mempersilahkan aku untuk bertukar kursi. Kebetulan sekali, bangku yang di sebelah Mba Asih yang masih kosong, juga akan ditempati oleh teman mereka sendiri. Jadi, kami bisa saling bertukar posisi. "Yey, akhirnya kita bisa sebelahan Mba..!" Aku pun mengucapkan terima kasih kepada penonton tersebut. Kami pun segera akan menikmati film Doraemon. Aku sempat mendengar kalau mau nonton film ini kayanya mesti siapin tisu, tapi tak kusangka memang ternyata aku butuh tisu pada akhirnya. Hehe.. Film ini mengalir dan mencapai titik klimaks saat Doraemon menangis karena menyadari waktunya tidak akan lama lagi untuk bisa bersama dengan Nobita. Aku pun tidak bisa membendung air mata. Tau-tau mengalir saja dengan sendirinya. Kudengar juga isakan para penonton di dalam seisi bioskop saat itu. Cerita ini memang mengharukan, lebih dari yang kukira. Di endingnya pun didukung dengan soundtrack yang indah, dan membuatku familiar dengan suara penyanyinya. Aku merasa sangat puas dengan film yang kutonton hari itu. Film Doraemon "Stand By Me" ini aku rekomendasikan untuk ditonton deh pokoknya. 

Kelar nonton film ini pun, aku merasa bahwa film ini dibuat bukan hanya dengan kreatifitas, tapi juga dengan perasaan. Karena disaat berkarya berpadu dengan kesenangan, maka hanya ada rasa senang yang tertinggal di perasaan yang menikmati karya tersebut. Film yang dibuat dengan hati, pasti akan menyentuh hati penontonnya. Perasaan gembira dan sepenuh hati ketika membuat film inilah yang kurasakan ketika menikmati film ini. Sugoi ne...

Inilah ceritaku tentang nonton perdana film Doraemon di Blitz bareng teman-teman. Selasa depan rencananya kita akan nonton lagi film berjudul Supernova yang diangkat dari novel Dewi Lestari. Semoga yang ikut bisa lebih banyak, jadi lebih rame, dan bisa dapet bangkunya jejeran semua ya. Amin.


Oya, mengenai Ost ending dari Doraemon ini, akhirnya setelah searching di google, baru kutau kalau penyanyinya itu si Motohiro Hata. Aku tau dia dari pv musik Jepang yang dikoleksi adikku. Suaranya yang lembut dan khas itu, cocok sekali untuk menutup film ini dengan manis. Ditambah alunan gitar akustik dan liriknya yang dalem, membuat film ini semakin mengharukan. Motohira Hata juga sempat mengisi ost anime Naruto lho. Dan doi kalo diliat-liat kaya mirip Bam Samsons ya, hehe.. 


Bekerja bukan hanya dengan kepala, tetapi dengan hati..
-Jerry Mc Guire


Love,

Minggu, 07 Desember 2014

Screening Festival Sinema Perancis 2014 di Kineforum

Sumber: ifi-id.com

Sabtu, 06 Desember 2014 aku dan Rachel serta Lina pergi mengunjungi Taman Ismail Marzuki di Cikini. Sebenarnya hari itu aku ingin sekali bisa ikut nonton TEDx Jakarta yang diadakan di Tzu Chi International Aula di Pantai Indah Kapuk. Tapi sayangnya aku masih belum beruntung untuk mendapatkan tiketnya yang sistemnya dipilih secara random. Padahal acaranya keren banget, penuh orang-orang yang mengsinpirasi. Cuma setahun sekali lagi, hemm.. Dan tahun ini yang bikin aku pengen banget dateng selain acaranya, adalah venuenya yang berbeda. Aku pernah melihat bangunan sekolah Tzu Chi di drama-drama yang diputar di DAAI Tv. Tapi pas searching foto bangunannya di google, ternyata bangunannya yg ada di PIK itu ya mirip-mirip sama yang di drama DAAI Tv. Megah banget dan artistik. Serasa berada di Cina, hehe.. Kalian searching aja kalau penasaran ya.

Okay, kembali ke Festival Sinema Perancis. Aku datang ke acara ini karena memang seneng dengan screening film-film yang unik dan gratis pastinya. Setelah janjian dengan Rachel dan Lina, aku berangkat dari rumah pukul 9 pagi. Sampai di stasiun Cikini sekitar pukul 11 kurang 15 menit. Di  stasiun sempat berkenalan dengan kawan baru yang hendak pergi ke Kota saat itu. Setelah sampai di Cikini, aku sempat menunggu kawan-kawanku, sampai kemudian akhirnya Rachel dan Lina pun tiba. Kami melanjutkan perjalanan menuju TIM naik kopaja. Setelah tiba di TIM, masih pukul setengah 12 siang. Screening berlangsung dari sekitar jam setengah 3 sore. Karena itu, aku mengajak mereka nonton planetarium aja dulu. Terhitung sudah 3 kali aku menonton acara tersebut, tapi tetap aja terkesima dibuatnya. Perjalanan menuju luar angkasa itu pun terasa amat singkat. Kami menyudahi perjalanan galaksi kami sekitar pukul 2 siang. Kemudian menuju ke Kineforum, tempat diadakannya festival Sinema Prancis. Festival tersebut terbagi di dua tempat. Untuk film regulernya, diadakan di XXI dengan HTM sebesar 30 ribu. Sementara untuk film khusus kartunnya diadakan di Kineforum di TIM ini. Dan untuk yang di Kineforum ini tidak dipungut biaya. I like it, hehe..

Setelah searching di google, di Kineforum sendiri memang memutar film-film pilihan setiap harinya dan kita bisa menontonnya secara cuma-cuma. Jadi, memang disini bisa jadi oase berkumpulnya para penikmat film. Dan ketika kami cari-cari tempatnya, lokasinya ternyata berada di belakang deretan gedung. Jadi, kalau kalian ingin kesini suatu hari, ini dia petunjuknya. Kalian tinggal jalan lurus aja dari gerbang, kemudian belok ke kiri sampai mentok terus jalan deh ke arah belakang. Di situ kineforum berada. Nah gara-gara ke kineforum juga, aku jadi tau kalau Institut Kesenian Jakarta berada persis di belakang TIM ini. Udik ya, hehe.. Melihat para pengunjung yang sedang menunggu di teras kineforum, kami menduga mereka adalah para mahasiswa. Mungkin juga mahasiswa IKJ. Melihat style salah seorang mahasiswinya yang keluar dari kampus tersebut, jadi mencuri perhatianku. Style pakaiannya unik dan aku suka. Kaya ngeliat style orang jepang yang mengisi web tokyofashion. Ya, walaupun gak ekstrim banget sih. Tapi untuk style ke kampus, itu kreatif menurutku. Berani tampil beda dan unik itu keren lho.

Setelah kami registrasi untuk nonton film yang jam 2 lewat 15 menit, kami mengisi perut dulu. Di dalam area TIM situ, di pinggir-pinggirnya, banyak penjual makanan. Aku kira bakal mahal-mahal, tapi ternyata tidak, kawan. Asumsiku karena berada di dekat kampus, makanya harga makanan yang dijual juga pas untuk dompet mahasiswa. Atau bisa juga pemilik kedainya adalah salah satu mahasiswa disana, bisa saja kan. Kami makan dengan hati senang, perut kenyang dan dompet pun aman. Setelah itu, kami kembali ke Kineforum. Dan saat itu film baru dimulai. Kami mengisi seat yang ada saja, karena masuknya juga sudah agak telat. Kineforum hanya berisikan mungkin sekitar 40 seat. Jadi semacam bioskop mini, tapi nyaman banget. Bangkunya enak dan full AC, kaya di bioskop reguler. Kami menikmati film pendek kartun dari mulai genre anak-anak sampai ada genre dewasanya. Dari mulai film anak yang lucu dan bikin ketawa, film dewasa yang dibumbui dengan cinta berbau adegan 17+, sampai film yang ga ngerti maksudnya apa dan bikin ngantuk-ngantuk. Apapun yang diputar, aku jadi berpikir bahwa film adalah refleksi dari kehidupan sehari-hari yang ada di negera tersebut. Jadi, aku seperti melihat Perancis dari sudut film kartunnya. Bahwa disana cinta digambarkan layaknya bara api yang menyala-nyala, serta kreatifitas yang tercermin dari goresan-goresan tangan nan lembut. Jalan cerita yang sederhana tapi sebenernya ada pesan-pesan yang dalam yang ingin disampaikan lewat film tersebut. Kami menikmati film-film pendek tersebut hingga pukul 5 sore. Setelah filmnya selesai, kami segera keluar ruangan dan berfoto-foto ria di depan banner festival Film Perancis. Aku pun baru sadar kalau selama kami nonton tadi ternyata di luar itu sedang turun hujan. Ah, untung saja aktivitas kami seharian ini berada di dalam ruangan, jadi aman gak perlu basah-basahan. 




Setelah selesai dari situ, kami pun pulang menuju stasiun Cikini. Ada perasaan aneh di dalam hati. Ini jalan-jalan berasa kentang alias nanggung. Aku pun tidak bisa menyebut ini sebagai jalan-jalan, karena seharian yang kita lakukan cuma nonton. Jadi hari ini mungkin judulnya kami ganti, bukan jalan-jalan, tapi duduk-duduk, hehe.. Kami menghabiskan sisa hari yang ada akhirnya dengan makan es krim di Mc D yang ada di depan stasiun Cikini. Kami mengobrol kesana kemari, dari mulai yang serius seperti pandangan hidup sampai bahan bully, yang saat itu korbannya adalah aku. Aku dibilang jodoh dengan Raditya Dika, karena kami sama-sama cocok. Sama-sama jones alias joblo ngenes, kata mereka, haha.. Aku bahkan baru tau kalo Radit itu jomblo. Soalnya ga terlalu ngikutin juga sih. Yah, pokoknya itulah bumbu-bumbu obrolan yang bikin mereka jadi tertawa puas dan aku cuma miris, hix hix..

Setelah puas makan ngobrol-ngobrol sambil makan es krim, dan hujan pun reda, kami segera pulang. Dari stasiun kami lanjut ke tempat masing-masing. Mereka turun di stasiun untuk Manggarai untuk transit, sementara aku meneruskan perjalanan menuju Bekasi. Dari kegiatanku di hari itu, memberiku hal-hal baru, seperti kenalan baru, inspirasi fashion yang unik dan menarik, serta pastinya ide postingan yang baru. Pemikiran out of the box yang tidak takut dalam bertindak, apapun resikonya. Berkarya karena menikmati jadi diri sendiri.


Love,

Rabu, 21 Mei 2014

Europe On Screen 2014 Jakarta

Sabtu, 3 Mei 2014 aku pergi bertualang ke Erasmus Huis, sebuah pusat kursus bahasa Belanda di daerah Jakarta yang masih satu kompleks dengan kedutaan Belanda. Hari ini disana ada acara Europe On Screen, yang merupakan acara tahunan untuk memutarkan film-film Eropa terbaik. Film Eropa saya rasa berbeda dari film buatan Amerika karena memiliki alur yang kadang sulit dicerna dan bertempo lambat. Ajang EOS ini bisa jadi adalah ajang untuk berburu nonton film gratisan yang diadakan tiap tahun. Perjalanan dimulai sekitar pukul 9. Aku berangkat dari rumah dengan dandanan yang sudah keceh abiz, hehe.. Sebelumnya aku memastikan petualanganku kali ini akan ditemani dengan rekanku Riny, yang bersama diriku ke Jogja tahun lalu. Ia berangkat dari rumahnya yang berada di Jakarta Utara. Sekitar pukul sepuluh, ketika aku baru duduk di dalam bis Bekasi – Tanah Abang untuk menuju komdak, whatsapp ku pun berbunyi. Rupanya Riny mengabari bahwa ia sudah sampai di Erasmus Huis, tempat pemutaran film tersebut berlangsung. Memang jalanan di Sabtu pagi itu cukup lengang, jadi perjalanan Riny pun bisa cepat sampai. Ia bilang memang kalau jalanan Jakarta di hari libur seperti Sabtu ini memang akan “tandus” karena Jakarta kan memang daerah perkantoran. Jadi di hari libur, aktivitas di jalanan pun pasti tidak akan semacet hari kerja. 

Aku pun tiba di Erasmus sekitar pukul 10.30 dan tidak terlalu sulit untuk menemukan tempatnya. Aku naik kopaja 66 dari komdak lalu bilang ke sopir dan keneknya untuk minta diturunkan di kedutaan India yang terletak bersebelahan dengan Kedutaan Belanda. Orang sana sepertinya lebih familiar dengan kedutaan India karena film-film Indianya. Kalo gak salah, disana juga suka diputar film-film India dan masyarakat umum boleh menontonnya secara gratis lho. Setelah turun dari kopaja, akupun segera mencari pintu masuk dan bertanya ke satpam juga untuk memastikan. Ia menanyakan tujuan kedatanganku, dan setelahnya mempersilahkan aku masuk. Sebelumnya aku harus melalui pemeriksaan metal detektor dan scanning tas. Memang ketat sekali ya, namanya juga kedutaan, so pasti mesti ketat. Setelah melalui pemeriksaan aku pun dipersilahkan masuk ke area Erasmus Huis. Ada dua pintu masuk disana. Kalo ke kanan itu ke gedung pusat bahasanya yaitu Erasmus, sementara kalo ke kiri itu untuk menuju kompleks kedutaan Belanda. Setelah itu aku langsung bertemu dengan temanku Riny yang sedang duduk santai di bangku taman. Disana banyak sekali bangku untuk duduk-duduk santai. Aku dan Riny pun langsung ngobrol-ngobrol sembari menunggu antriannya dibuka.

Ada si kodok yang bikin gemes..

 Ini dia pusat bahasanya, Erasmus Taalcentrum..

 Tamannya luas dan tertata rapi.

 Di bagian belakang terdapat ruang terbuka yang bisa dijadikan sebagai area pertunjukan seni dan orkestra.

 Selfie mode on

Area Open Air Screening
Area ini sudah disiapkan untuk gelaran nonton bareng EOS nanti malem.

Sembari menunggu antrian dibuka, aku dan Riny berkeliling di dalam ruang pameran dan melihat ada sebuah perpustakaan. Saat aku mau masuk ke dalam ruang perpusnya, tiba-tiba ibu penjaganya menegorku. Ia mengatakan kalo yang bisa masuk ke dalam hanya anggota perpustakaannya saja. Dan jika ingin menjadi anggota perpusnya cukup membayar biaya keanggotaan sebesar 30 ribu rupiah saja kalo tidak salah. Lalu aku dan Riny jadi mengurungkan niat untuk melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang perpustakaan itu. Kami berjalan-jalan di dalam ruang pameran dan melihat berbagai foto yang sedang dipamerkan. Kali ini tema pamerannya adalah “Memories from Borneo”. Foto-foto tersebut diambil oleh ahli geologi Swiss bernama Wolfgang Leupold dan mengambil setting foto-foto Kalimantan dari tahun 1921-1927. Aku dan Riny jadi banyak berdiskusi tentang foto-foto ciamik yang dipamerkan disana.

Me and Riny

Setelah itu pintu antrian pun dibuka, dan kami melakukan proses registrasi dengan mencatat nama kami di buku pengunjung. Satu tiket hanya untuk satu penonton. Itulah aturannya. Jadi tidak bisa nitip-nitip. Setelah itu kami memilih bangku yang paling nyaman dan mulai menonton film pertama yaitu Ernest dan Celestine. Film kartun dari Perancis ini memang yang menjadi incaranku. Dan benar ternyata, film ini benar-benar menghibur kami semua yang nonton dan memberi pesan moral yang dalam tentang arti sebuah persahabatan. Gambarnya pun dibuat sederhana seperti lukisan cat air yang kita lihat kalo kita sedang membaca sebuah buku gambar. Sederhana tapi bagus. Jalan ceritanya juga gak membosankan. Walaupun di tengah-tengah terdapat kesalahan teknis yaitu gambarnya yang macet dan lumayan bikin kecewa, tapi itu tidak terlalu kami pikirkan lagi. Terbukti di akhir filmnya, kami semua yang nonton memberikan tepuk tangan yang gemuruh sebagai apresiasi untuk film tersebut. Dan aku pun juga jadi mendownloadnya sepulang dari sana. Karena aku ingin nonton lagi film yang bagus dan lucu itu.

 Suasana di dalam teater sebelum film diputar.
Beberapa warga asing juga menjadi penonton dalam ajang Festival Film Eropa ini.
 Salah satunya berada di depan kursi kami. ^^

Sebelum nonton, foto-foto lagi dunk!

Setelah film pertama selesai, dilanjutkan dengan jeda istirahat selama satu jam sebelum memasuki film kedua. Aku dan Riny pun segera mencari makan di luar, karena perut ku sudah keroncongan. Kami berjalan menyusuri pinggiran jalan di sekitar area kedutaan Belanda tersebut. Finally, kami hanya menemukan tukang mie ayam dan ada juga tukang siomay yang nangkring tepat di depan gedung. Sebenarnya ada restoran Hema (restoran masakan Belanda) yang terletak di dalam area kompleks Erasmus, tapi kami memutuskan untuk makan mie ayam yang di pinggir jalan saja (murmer ciiinnnn...)

Ada restoran HEMA di dalam kompleks kedutaan ini.

Setelah kenyang, kami masuk lagi ke dalam gedung itu untuk menunggu sampai antrian film kedua di buka. Ketika kami sedang duduk-duduk di salah satu kursi di halaman gedung dekat Hema, kami dihampiri oleh seorang wanita. Rupanya wanita itu adalah salah satu dari staff festival film tersebut. Dia memberi tau kepada pengunjung yang sedang menunggu di luar untuk masuk ke dalam gedung, karena antrian filmnya sudah akan dibuka. Kami masuk ke dalam gedung dan setelah mengantri tiket, kami lihat ternyata ruang di sebelah teater tersebut pintunya dibuka. Para pengunjung festival juga dipersilahkan masuk. Wow, ternyata di dalam disediakan jamuan makanan ringan dan minuman untuk para pengunjung. Ada roti seperti roti prancis yang atasnya di beri hiasan krim gitu. Aku juga kurang tau namanya apa, tapi yang jelas makanan itu tersaji dalam porsi bisa dimakan satu suapan masuk ke dalam mulut. Ada juga anggur hijau yang rasanya manis. Untuk minumannya aku pun tidak kalah bereksperimen. Disana tersaji wine dan jus jeruk. Aku pun mencoba wine untuk pertama kali. Rasanya pait dan setelah meminumnya membuat tenggorokan ku terasa hangat. Tapi bagi peminum non alkohol, bisa minum jus jeruk buavita yang tersaji disana. Kalo aku sih minum dua-duanya, mumpung gratis, hehe.. Oh iya, acara ini berarti bisa jadi ajang berburu wine gratisan juga ya selain untuk nonton gratisan. Mantaps! Hehehe.. Disana juga banyak kulihat kaum ekspatriat yang menjadikan event EOS ini sebagai ajang kumpul-kumpul. Kulihat para bule tersebut meneguk gelas wine itu dengan asik, karena minum wine kan memang sudah jadi kebiasaan di negara mereka untuk menghangatkan badan. Dan sebenarnya aku pun ingin foto-foto makanannnya juga, tapi jadi agak malu, karena di jamuan itu banyak orang-orang asingnya. Tapi akhirnya satu dua jepret sih dapet. Cuman sayang, pengen foto botol winenya belum kesampaian. Huah..

Para ekspatriat juga menjadikan EOS 2014 ini sekalian sebagai ajang gathering mereka. 

Aku cobain ini juga lho. Ada yang tau namanya apa ??

Setelah selesai dijamu dengan makanan ringan dan minuman, film kedua pun dimulai dan kami pun segera masuk ke dalam teater. Film kedua bercerita tentang autobiografi seorang tokoh pembela hak tenaga buruh di Polandia. Karena semi dokumenter gitu, jadi ceritanya lumayan berat. Tidak seperti film anak-anak yang lucu nan menghibur tadi. Walaupun begitu, ada beberapa part dari jalan ceritanya yang menggelitik dan membuat tertawa juga. Setelah filmnya berakhir sekitar pukul setengah 5 sore, kami pun langsung beranjak pulang menuju rumah kami masing-masing. Aku dan Riny menghabiskan waktu yang menyenangkan hari itu. Petualangan main ke Erasmus Huis, nonton dan makan gratisan ini pastinya tidak akan kulupakan. Btw, minggu depannya pun aku kembali mengunjungi festival film Eropa di Goethe Institut yang terletak di daerah Menteng. Festival film ini merupakan acara tahunan yang diadakan sekitar semingguan saja. Jadi ketika ada kesempatan dan ada waktunya, pastinya tidak akan kulewatkan. Di Goethe House yang merupakan tempat kursus bahasa Jerman tersebut, kami nonton dua buah film lagi seperti minggu lalu. Yang pertama itu film anak-anak yang menghibur, dan yang satunya lagi adalah film dokumenter. Senangnya,, pengalaman nonton EOS berhasil juga kesampaian tahun ini. ^^ 

 Berfoto di depan plakat Erasmus Huis gak boleh ketinggalan dong..

  EOS 2014, thank you.. !!

 Hasil rampokan disana.. :p

Ernest & Celestine dan Walesa.
Dua film berkualitas dari sekian banyak film terbaik yang diputar di ajang EOS 2014

Bulan depan bakal ada kidsfest lagi nih kawan yaitu festival film Eropa yang memutarkan khusus film anak-anak. Mudah-mudahan bisa dateng lagi dan menonton film yang bagus-bagus seperti tahun kemarin. Amin.

Cheers,

Nita

Minggu, 17 April 2011

#2 : cin(T)a, God is a Director, God is an Architect

Cina (diperankan Sunny Soon) dan Annisa (diperankan Saira Jihan) mencintai (T) dan (T) mencintai mereka berdua. Tapi Cina dan Annisa tidak dapat saling mencintai karena mereka memanggil (T) dengan nama yang berbeda.

(Coba kalian ganti (T) dengan Tuhan, mungkin kalian akan mengerti.)

Baru tadi akhirnya aku bisa menonton film karya anak bangsa ini, yang rasa penasarannya sebenarnya sudah muncul sejak lama. Tak sengaja kutemukan vcd-nya di kios penjual dvd dekat rumah. Langsung saja aku bertekad pasti akan membelinya. Rasa penasaran itu muncul karena waktu itu aku melihat making the movie nya di tv. Inti filmnya sih menceritakan kisah cinta dua insan yang berbeda keyakinan. Cina, seorang kristiani dan Annisa, seorang muslim. Dan disitu dibilang bahwa film ini unik karena hanya menampilkan wajah dua orang pemain, ya tokoh utamanya saja. Sekalipun ada tokoh extra pasti tidak pernah keliatan wajahnya. Dan sudah kubuktikan tadi dengan menontonnya. Ya cuma keliatan punggungnya sajalah, kakinya sajalah, bagian hidung ke bawah sajalah, sekalipun keliatan mukanya, eh pas 'gak kena cahaya, jadi sama saja, gelap-gelap juga mukanya. (Kasihan ya, yang jadi tokoh extranya, 'gak bisa exist, hehe..)

Bahasa film ini cenderung lugas dan blak-blakan. Di samping itu juga sarat dengan nilai-nilai yg terjadi di sekitar kehidupan sosial kita. Dialog-dialognya maut, sering membuatku tertawa geli sambil berpikir. Film ini mungkin tidak se-terkenal Laskar Pelangi atau Naga Bonar (karena kupikir ini film Indie), tapi menurutku ini film yang bagus. Sunny and Saira, they both act so good. Walau ketika menontonnya juga sambil kusaring baik-baik. Dan saranku sebaiknya begitu.

Scene yang paling berbekas di kepalaku adalah ketika sebelum makan, mereka berdoa bersama dengan cara yang unik.

Foto: http://godisadirector.files.wordpress.com/2009/04/cinta-lowres1.jpg

Jumat, 11 Maret 2011

Movies

Sebenarnya sudah dari kemarin-kemarin aku mau menulis tentang hal ini, tapi baru sekarang kesampean. Minggu-minggu belakangan ini waktu senggangku, ku isi dengan menonton dvd. Berikut ini adalah daftar filmnya:
  1. If you were me 2 (begitulah tulisan di-covernya)
  2. Ocean heaven
  3. Camp rock 2
  4. Beautiful mind
  5. Hachiko (versi barat)
Untuk review-nya masing-masing, akan kubahas sebisa dan seingatku.

***
If you were me 2, adalah kumpulan film pendek buatan negeri ginseng, Korea. Awalnya aku kira film biasa yang berdurasi kurang lebih dua jam. Aku membelinya tanpa tau ceritanya sama sekali, hanya bermodal gambar di cover- nya yang membuat penasaran. Pria muda yang sedang berteriak entah karena stress atau disiksa (disitu nampak seorang bapak sedang menjambak rambutnya dan wajahnya basah, seperti habis dicebur-ceburkan ke air). Menonton film pendek agak membosankan dan membingungkan. Apalagi bahasanya 'kan bahasa orang. Awalnya agak kecewa dan menyesal membelinya. Tapi ya sudahlah, toh menambah khasanah koleksi dvdku juga. Hehe.
Jadi, dvd itu berisi lima buah film pendek, besutan sutradara yang berbeda-beda. Film tentang kisah nyata kehidupan anak penderita autis menjadi pembukanya. Dilanjutkan cerita tentang orang mabuk (yang ini aku sama sekali tak mengerti maksudnya), lalu sepasang muda mudi pencuri kaleng Coca-Cola. Setelah dilanda kebingungan, akhirnya film ke-empat lumayan menarik bagiku. Menceritakan kehidupan seorang polisi yang tugasnya mengintrogasi tahanan. Menarik dan ada sisi menggelikannya juga. Film terakhir mengisahkan tentang kehidupan pria korea keturunan Cina, yang pada tahun-tahun itu masih sulit legalitas kewarganegaraannya. Yang ini cenderung serius, kawan.

***
Ocean heaven, begitu melihat covernya, dalam hati langsung berkata harus aku beli. Karena cuplikan film ini telah aku lihat di video klip lagunya Jay Chou (salah satu artis favoritku), dan menarik untuk disimak nampaknya. Dafu, seorang anak penderita autis berusia 21 tahun, menjalani hidupnya dengan penuh perjuangan. Ia dibesarkan oleh bapaknya (diperankan oleh Jet Lee) tanpa sosok ibu sedari kecil, karena ibunya telah meninggal akibat kecelakaan tenggelam di laut. Bapaknya pun juga sebenarnya sudah mengidap penyakit paru-paru yang parah. Hal yang dikhawatirkan adalah bagaimana Dafu bisa hidup mandiri jika kedua orang tuanya telah tiada. Hal ini menjadi konflik yang mengharukan. Dafu, seorang perenang yang ahli, mengikuti jejak ibunya, dan ia suka sekali berenang di akuarium besar semacem Sea World, karena bapaknya bekerja disana. Cerita ini bagus untuk ditonton. Dan benar ternyata, diakhir Jay Chou mengisi soundtrack film ini. 
***
Camp rock 2, kesanku yang paling nyata terhadap film ini adalah sosok Demi Lovato yang tampilannya berbeda sekali. Rambutnya dicat hitam, tanpa poni. Make up pun lebih dewasa. Benar-benar berbeda. Dari segi cerita, semua anggota geng Jonas lebih banyak berperan ketimbang di film sebelumnya. Nick pun menyanyi solo disini. Dan Kevin memperlihatkan sosok penyayangnya terhadap anak-anak dan itu membuatnya terlihat lucu dan keren. Aku menikmati lagu-lagu yang dinyanyikan di film ini, bagus.

***
Beautiful mind, adalah vcd hasil membeliku di tempat rental. Aku tertarik karena penasaran saja. Apalagi ada tulisan academy awardnya segala kalo tidak salah, sepertinya ini film "berat". Setelah kutonton, perasaanku tidak menyesal telah memilikinya. Memang film ini bagus. Menceritakan tentang seorang yang jenius sekali dalam matematika, tapi agak kurang dalam pergaulan. Ia dikampus tinggal sekamar dengan seorang pria bernama John dan akhirnya mereka bersahabat. Ia pun juga bertemu dengan seorang detektif yang mengajaknya untuk ikut dalam sebuah misi rahasia. Ia ditugaskan untuk memecahkan sebuah kode sebelum akhirnya Rusia berhasil membom Amerika. Tapi apakah semua kejadian itu memang benar ada? Nantinya itu semua akan terbongkar. Saat wanita yang dicintainya dan sangat mencintainya berjuang untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada diri suaminya, disitulah cerita mulai seru. Menonton film ini seperti menonton Panic room atau Flight Plan, penuh tanda tanya.

***
Hachiko, hmm, telat benar ya saya nonton film ini. Sebelumnya thanks to Rachel yang udah minjemin film ini dan Camp Rock 2-nya. Film ini sudah lama ku dengar dan kurang lebih aku sudah tau garis besar ceritanya, Kata orang-orang bagus dan mengharukan. Makanya aku jadi tertarik nonton. Cerita tentang anjing keturunan Jepang yang setia betul pada majikannya sampai kematian menjemputnya. Anjing itu ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang bapak (diperankan Richard Gere) di sebuah stasiun kereta. Kemudian anjing itu dipeliharanya dan diberi nama Hachi. Sesuai dengan tulisan di kalung yang melingkari lehernya. Ia begitu setia, setiap sore selalu menungggu majikannya keluar dari depan pintu stasiun. Sampai pada suatu hari, majikannya itu meninggal dan ia tetap kekeuh menunggu di depan stasiun sampai majikannya itu muncul. Padahal Hachi sudah diberitahu oleh orang-orang di sekitar stasiun (yang merupakan kawan-kawan majikannya itu juga) bahwa majikannya itu sudah tidak ada, tapi tetap saja ia kembali lagi ke stasiun. Hachi menunggu majikannya itu selama 9 tahun dan akhirnya meninggal dalam keadaan tetap setia menunggu di depan stasiun. Adapun kisah ini adalah sebuah kisah nyata dari Jepang, dan untuk mengenangnya dibuatlah sebuah patung anjing ditempat dimana Hachi biasanya singgah untuk menunggu majikannya. 
***

Perpustakaan Film

Sore tadi, sepulang kerja aku mampir ke tempat sewa vcd langgananku dekat rumah. Sudah lama aku tidak kesana. Aku selalu merasa nyaman ketika disana. Bisa melihat banyak koleksi film dan tempatnya adem. Hehe. Aku merasa tempat itu bagaikan perpustakaan film saja.
Aku hobi nonton. Apalagi film-film yang mengandung pesan moral dan kebaikan, atau yang menyangkut tentang dance. Tadinya aku hanya menyewa film eat pray love lalu menanyakan perihal kotak tempat vcd yang pernah kubeli apakah masih ada atau tidak. Soalnya kalau tanpa kotaknya, vcd itu terlihat kurang "vcd".
Jadi kalau ditempatku itu, film-film yang sudah lama alias jadul, dapat disewa sekalian dimiliki. Jadi tidak usah dikembalikan. Hemat kan' jadinya. Vcd original dapat dibeli seharga sewa. Tapi sayangnya kata mas penjaganya sudah tidak ada kotaknya, sudah dibuang. Yah, apa boleh buat, sudah lama juga kejadiannya. Maka fokusku sekarang adalah memilih (baca: memborong) film-film yang mau kumiliki. Setelah lama menilik akhirnya kuputuskan tiga film kubeli. Black, Ice Princess, dan Noel. Film India, film dance, dan film barat yang menurutku sarat moral.
Setelahnya, akupun mengobrol dan berkenalan dengan mas penjaganya, yang sebenarnya sudah menjaga disana dari jaman aku kuliah. Kami mengobrol lumayan lama, dan ternyata kita memiliki kesamaan dalam hal buku dan film. Satu kawan baru bertambah, ah, senangnya! Aku jadi teringat tulisan kawanku hilmy tentang silaturahmi, sore itu kurasakan manfaat dari sebuah perjalanan, sebuah kunjungan, walau hanya sejauh jengkal.

Sumber foto: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgByxIrCMDWv5B91tKVh0QaIYtpkjiu0bFFxtZoO6ZCpQE2B7_KSxbQzbijmho7KwBrGU4z0sLMYEFhtEOsKRWhkOpCXG0j_wEHdu12LxItLjklWBDxG-uXxybMgzjjpODbOP9mKa9x-Cvp/s320/rental-DVD.jpg
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...