Kamis, 31 Juli 2014

Segar dan Hijau


Sabtu, 26 Juli 2014 lalu, aku dan kawan-kawanku, Rachel, Michael dan Lina bertualang bersama ke Kebun Raya Bogor. Aku yang mengusulkan ide tersebut karena aku sudah rindu sekali menghirup udara segar di tengah hutan yang hijau. Me-refresh pikiran. Kami janjian di stasiun Bogor langsung. Aku dari Bekasi sementara kawanku dari Depok. Ini adalah pertama kalinya aku mendatangi stasiun Bogor. Setelah sampai disana, ternyata stasiunnya bagus lho. Di stasiun, aku melihat sepasang bule, cewek dan cowok, yang juga keluar dari peron.

Aku dan kawan-kawan akhirnya bertemu di stasiun pukul 12 siang. Kami langsung menuju ke KFC di seberang stasiun untuk mengisi perut dulu. Aku kembali melihat pasangan bule yang tadi di stasiun, sedang makan siang juga disana. Setelah itu sekitar pukul 1 siang kami langsung meluncur ke Kebun Raya Bogor naik angkot 02. 

Sesampainya di Kebun Raya, cuacanya enak sekali. Walaupun ini siang bolong dan dijalan tadi teriknya matahari begitu menyengat, tapi di dalam kebun raya ini begitu teduh. Menenangkan hati dan jiwa. (Cie elah..). Kebun Raya Bogor menjadi seperti oase di tengah kota Bogor ini.

Kami membayar tiket masuk sebesar 15 ribu per orang sebagai bagian dari keikutsertaan dalam konservasi flora yang ada di Kebun Raya Bogor. Kami menikmati perjalananan di sepanjang kebun raya yang luas dan asri banget itu. Michael sempat ingin mengajak kami masuk ke kuburan Belanda yang ada di dalam sana. Tapi aku dan Rachel enggan untuk masuk, karena jalanannya sepi dan gak ada orang juga disana. Pas di dalam kebun rayanya, eh aku ngeliat lagi pasangan bule yang tadi. Hmm.. sepertinya kita berjodoh, haha..

 Bangunan inilah yang menyambut kami saat memasuki ke kebun raya

 Di depan istana Bogor

 Teratai yang cantik ini tak pelak menjadi objek foto macro ku

 Tulip putih ini juga pastinya menjadi sasaran fotografiku

Flower everywhere..

Taman-taman disana begitu indah dan asri. Satu yang masih harus menjadi perhatian pihak kebun raya dan pastinya pengunjung. Masih ada aja orang-orang yang gak bertanggung jawab, yang mengotori tempat ini dengan membuang sampah sembarangan. Aku melihat sampah botol mizone mengambang di danau cantik yang kami lewati tadi. Begitu pula ulah tangan iseng yang mencoret-coret keindahan bangunan taman disana. Kalau itu semua bisa dirawat, dan pengunjung bisa lebih sadar diri untuk ikut memelihara kebersihan kebun raya, then it will be perfect! Saranku untuk pihak kebun raya adalah agar memperbanyak tong-tong sampah yang ada di dalam area kebun raya, agar pengunjung yang ingin membuang sampah, bisa langsung membuang pada tempatnya.

 Keindahan Taman Teijsmann

Atas: Sampah yang mengotori danau di Kebun Raya Bogor
Bawah: Coretan-coretan yang tidak pada tempatnya

Disana aku juga sempat berandai-andai, kalau saja aku bisa punya halaman rumah yang seluas ini, bisa dibayangkan rumahnya sebesar apa ya dan kalo mau sampe ke rumahnya mesti jalan jauh dulu dong, hahaha... Padahal taunya rumahnya mah kecil, cuma di pohon bambu doang, hahaha.. Kami juga sempat penasaran untuk melihat bunga bangkai yang legendaris itu. Tapi sayangnya bunganya sedang tidak mekar, lagi layu ajah. Mungkin memang hari itu bukan momentnya ia untuk mekar dan menunjukkan keanggunannya. Kami juga sempat berfoto-foto di taman Meksiko yang dipenuhi oleh tanaman kaktus khas padang gurun Meksiko. Ada juga jembatan merah mini yang terletak tidak jauh dari taman Meksiko. Selanjutnya kami berputar-putar mencari jembatan merah alias jembatan gantung yang terkenal itu.

 Welcome to Meksiko Park!

 Rachel beraksi

Nita juga gak mau kalah, hehe..

Beberapa flora yang dilestarikan di Taman Meksiko

 Keseruan bermain di Taman Meksiko
I like the Sombrero man!

 Jembatan merah mini yang terletak tak jauh dari Taman Meksiko

 Cerita dimulai dari foto kiri atas, lalu berputar searah jarum jam.
1. Michael sedang memikirkan dimana jembatan gantung berada.
2. Mari kita menyatukan kekuatan untuk menemukannya. Semangat!!
3. Michael dan Lina menerabas sisi hutan demi menemukan petunjuk.
4. Akhirnya kami menemukan PETA yang akan mengarahkan kami ke jembatan yang kami cari.
Horee... Tamat!

Selfie

Setelah berkeliling menikmati hutan yang lebat, akhirnya kami menemukan juga jembatan gantung itu. Lina lumayan takut ketika berjalan di tengah-tengah jembatan merah itu. Kalo setiap teringat ekspresinya saat itu, aku jadi agak geli juga, hehe.. Di sana aku pun menemukan jembatan Surya Lembayung yang merupakan bentuk kepedulian dari Indofood terhadap infrastruktur di Kebun Raya Bogor. Di jembatan itu aku tiba-tiba teringat akan film Thailand, Dear Galileo. Katanya menurut teori Galileo, apabila kita menjatuhkan material yang sama dari ketinggian yang sama, walaupun beratnya berbeda tapi akan tetap jatuh di saat yang bersamaan. Kalau kita beruntung, angin tidak akan ikut meniupnya sehingga benda tersebut akan tetap jatuh di waktu bersamaan. Aku mencoba mencari batu di sekitar jembatan. Akhirnya ketemu juga batu yang lumayan besar. Walaupun ukuran batunya agak lebih besar punya aku daripada punya Rachel, tapi kami tetap akan mencoba keberuntungan kami (ingat teori Galileo). Kami masing-masing membuat sebuah permohonan kepada Tuhan. Kalau batunya jatuh ke dalam air dalam waktu bersamaan berarti impian kami akan terwujud. Aku jadi deg-degan dan kemudian di hitungan ke 3, aku dan Rachel sama-sama melepaskan batu yang kami pegang. Huahh, ternyata batu yang kami pegang benar-benar jatuh ke dalam sungai di waktu yang bersamaan. Rachel begitu senang, begitu juga aku. Semoga harapan kita bedua benar-benar didengar dan diwujudkan oleh sang Khalik. Amin.

 Di jembatan merah yang kondang itu

Jembatan Surya Lembayung beserta sungai yang menjadi saksi permohonan kami

Atas: Salah satu scene yang diambil dari film Dear Galileo
Bawah: Kami pun melakukan hal yang sama seperti di dalam adegan film tersebut
Dan ternyata berhasil, kedua batu tersebut jatuh bersamaan lho! :D

Di kebun raya aku banyak sekali melihat turis asing. Dan tempatnya memang keren sekali. Tidak salah kalau banyak bule yang tertarik untuk mengunjunginya. Ini merupakan pesona Indonesia yang mesti terus dijaga dan dipromosikan. Aku jadi teringat dengan kebun raya Singapura yang pernah aku datangi. Dengan berani kukatakan, tempat ini tidak kalah keren sama yang di Singapur. Kebun Raya Bogor adalah hutan asri di jantung kota yang membentang luas dan begitu menentramkan hati. Kubayangkan, kebun raya ini asik banget pastinya ya kalau buat lari pagi.. Dalam lubuk hati, aku ingin kembali lagi mengunjunginya suatu hari nanti.

 Hutan yang asri dan hijau
Love it so much.. ^^

 Kiri: Gambar Taman Sudjana Kassan yang terlihat di papan profile
Kanan: Taman Sudjana Kassan dalam bidikan lensa kameraku, begitu indah...

Saat kami sedang haus karena lelah mengelilingi taman, kami pun menemukan keran air minum ini.
Thanks God! ^^

Di hampir akhir perjalanan, kami menemukan taman yang begitu luas dan hijau membentang. Banyak dari pengunjung yang sekedar tidur-tiduran di taman untuk menikmati sore yang cerah itu. Michael yang kreatif itu pun mengeluarkan idenya kembali. Karena disana banyak bule, gimana kalau kita minta fotoin berempat sama bule itu. Memang dari tadi itu kami belum ada foto bareng-barengnya. Dan ini pun bisa sekalian melatih keberanian dan kemampuan bicara bahasa Inggris kami. Kami memilih seorang wanita yang sedang duduk sendirian di tengah taman, sedang asyik membaca buku. Madam itu berwajah cantik, dan ia sangat baik hati. Awalnya aku merasa kalau ia sempat merasa risih dengan kedatanganku yang minta tolong, tapi karena kami menyapanya dengan sopan, ia pun mau menolong kami. Kami diambilkan gambar sampai 2 kali jepretan. Ia pun tersenyum saat mengambil foto kami. Kami semua tanpa dikasih aba-aba, serempak mengancungkan jari berbentuk V alias peace. Dan setelahnya kami mengucapkan terima kasih kepada madam itu dan ia pun mengucapkan salam perpisahan. Kata Lina, ternyata pas kami difoto sama madamnya tadi, seorang wanita di belakang kami sepertinya ikut membidik kami dalam jepretannya bersama dengan madamnya juga. Xixixi, kalau memang beneran, jadi enak..

 Taman yang cantik untuk bersantai bersama keluarga, pasangan atau sahabat tersayang

 Sukaaaaa....

Thanks Mam, for helping us take this beautiful picture.

Di jalan pulang menuju pintu keluar area kebun raya, lagi-lagi pasangan bule yang tadi kulihat, lewat lagi di hadapanku. Huahhh.. Udah lebih dari 3 kali, mestinya udah dapet piring cantik nih aku. Hahaha,,

Dan kami pun keluar dari area kebun raya sekitar pukul setengah 5 sore. Kami kembali ke stasiun Bogor dan kami masing-masing membeli tiket pulang ke kota tujuan kami. Rachel dan adik-adik turun di depok, sementara aku turun di Bekasi. Di dalam kereta, aku pun menepuk jidatku. Sepasang bule yang dari tadi aku lihat sampai berkali-kali, kembali terlihat duduk di seberang kursi kami. Huahh.. Beneran jodoh sama mereka ni hari, hehe.. Mereka pun sepertinya menyadari keberadaan kami, karena mereka sempat melirik kearahku. Hujan turun dengan deras dalam perjalanan pulang kami dari Bogor di sore menjelang malam itu. Apalagi saat aku menunggu di stasiun Manggarai, hujan turun begitu lebat. Aku pun tidak membawa jaket. Brrrrrr.... Uuaaademeee, Rekkkk! XD

Cheers,

Minggu, 06 Juli 2014

Breathing Fresh Air


I love running. Dan karena sudah sekian minggu saya tidak lari, jadi Minggu pagi ini saya memutuskan untuk lari lagi. Saya biasanya lari pagi di kompleks perumahan Gramapuri yang terletak tidak jauh dari komplek rumah saya. Pagi itu saya menggunakan hari libur saya untuk bangun pagi-pagi dan mengikat tali sepatu kets saya. Sekalian jalan ke pasar tradisionalnya juga setelah lari. Jam 6 pagi saya keluar rumah dengan semangat.

Dalam perjalanan menuju kesana, saya baru teringat satu hal yang membuat saya tercegat. Ini kan bulan puasa, OMG! Siapa yang mau lari pagi-pagi di bulan puasa. Ga bakal ada orang jualan makanan dan minuman seperti biasanya juga. Huaahh.. But for just walking around and breathing the fresh air, I think that will be okay.

 Sepi sekali.
Tidak ada orang lari. Apalagi jual makanan. :p

Saya sampai juga akhirnya di tempat biasanya banyak orang lari pagi. Dan benar saja, disana sepi sekali. Hanya terlihat beberapa gerombolan anak-anak yang sedang bermain disana. Ada juga segelintir orang yang bersepeda. Tapi yang lari sama sekali tidak terlihat. Akhirnya saya putuskan untuk langsung menuju pasar tradisional yang ada di dekat sana untuk belanja tahu pong pesenan mama. Pasarnya lumayan ramai, dan saya pun menemukan pedagang tahu disana. Setelah selesai beli tahu, saya pun kembali pulang ke rumah. Di jalan pulang, saya menemukan anak-anak yang sedang main petak umpet dengan ceria. Deuuh, jadi inget masa kecil.. ^^

Tahu Pong

Mengambil nilai positif dari kejadian ini, saya jadi dapat ide. Kurasa next time, pilihan bersepeda pagi hari di 
saat bulan puasa akan terasa lebih pas ya. :-)


Cheers,

Sabtu, 14 Juni 2014

Resep Panjang Umur di Bumi

Foto diambil di jalan dekat pengairan Bekasi

Cheers,
Nita 

Bandung I'm in love again

Tanggal 24-26 Mei 2014, aku mengunjungi kota Bandung kembali. Sebuah pertemuan yang sudah kunantikan. Aku akhirnya bisa punya waktu yang cukup untuk main ke kosan sahabat ku di Nangor. Ya walaupun itu sudah termasuk wilayah Sumedang, tapi aku bisa mengunjungi kota Bandung di hari Minggunya karena gereja kawan ku itu ada di daerah Dago. Huah, finally Dago I get you!

Ceritanya hari Seninnya, tanggal 26 Mei, aku sudah mengajukan cuti sehari ke kantor dua minggu sebelumnya. Karena hari Selasa itu tanggal merah jadi Senin itu ceritanya hari kejepit. Sekalian ajah aku pakai untuk long weekend. Aku berangkat menuju Cileunyi tempat meeting point aku dengan Rachel yang kos di dekat sana. Ini adalah pengalaman pertamaku ke Cileunyi naik primajasa sendirian lagi. Jadi agak sedikit deg-degan. Takut nyasar. Sepanjang perjalanan aku menginfokan by sms ke Rachel tentang letak posisi ku dan dimana aku harus turun dari bis. Karena lewat tol dan bis primajasa itu nyaman (baca: ber-AC dan full music) jadi sepanjang perjalanan lancar dan asik-asik ajah. Ditambah ibu yang duduk di sebelahku juga kebetulan turun di cileunyi, jadi ada barengannya. Ah, aman..

Setelah kurang lebih dua setengah jam perjalanan, akhirnya aku melewati tol Cileunyi dan turun di jalan besar dekat sana. Aku bertemu dengan kawanku dan langsung menuju kosannya. Kami menghabiskan malam itu di kosan dengan ngobrol, main gitar pinjem punya kakak kos sebelah sambil mengaransemen lagu. Malam itu kami jamming sampai kami jam 9 malam. Suara Rachel sudah terdengar lelah, jari-jari ku pun sudah keram. Tapi hasil aransemen kami pun akhirnya finish! Yeayy, tinggal tunggu tanggal mainnya aja nih.. :) Seperti biasa, kami tidak langsung tidur melainkan ngobrol sampai tengah malam.

Besoknya kami bangun jam 5 pagi untuk siap-siap ke gereja. Kami naik bis jemputan ke gereja GII di Dago yang disediakan tepat di samping kampus Rachel, UNPAD. Kami sampai di bis sekitar pukul setengah 8, kemudian bis berangkat pukul 8. Sekitar pukul 9 kami sampai di GII Dago. Kami mencari makan dulu sembari menunggu gereja dimulai. Ketika sedang berkeliling cari cemilan, aku melihat ada keramaian di dekat sana. Terdengar juga suara yang tidak asing seperti sedang diwawancarai. Ternyata ada pak Ridwan Kamil disana. Huaah, kebetulan sekali. Aku bisa melihat beliau secara langsung untuk pertama kalinya. Aku pun tak kalah ikutan foto-fotoin beliau seperti wartawan lain yang ada disana. Jiwa jurnalisme ku bangkit. Hehehe..

Bapak Ridwan Kamil ditemani istri tercinta, sedang mengunjungi salah satu stan di festival BAM
(Bandung Agri Market)

 Banyak wartawan, jadinya aku nyelap-nyelip ajah biar bisa ngambil foto juga :D

 Ada festival maka ada yang jualan, ada makanan dan ada musik

Bandung Agri Market akan digelar di setiap kecamatan di Kota Bandung.
Tujuannya untuk memperkenalkan buah-buahan dan sayuran lokal serta mengurangi konsumsi buah dan sayuran impor.

Pak Emil juga gak lupa untuk nge-update event ini di twitter pribadinya lho

Jam 10 ibadah pun dimulai. Di dalam gereja yang bercirikan kultur Mandarin itu, disediakan dispenser, jadi aku bisa isi botol minumku deh, lumayan buat stock air selama perjalanan nanti. Sekitar pukul 12 ibadah pun selesai. Berarti ini saatnya menjelajah sekitar Dago.

Kami mengunjungi mall PVJ terlebih dahulu. Aku buta arah, Rachel juga. Dengan mengandalkan informasi dari kaskus hasil googling semalam dan bertanya kepada petugas polisi, kami pun sampai di mall Paris Van Java tersebut. Kami naik angkot dari depan mall Batos yang berseberangan dengan gereja GII. Kami naik angkot ijo item nomer 05 jurusan Cicaheum-Ledeng, kemudian dilanjut naik angkot kuning ijo nomer 35 jurusan karang setra-kalapa. Kami sempat kebabalasan, tapi untungnya seorang ibu memberi tau kami bahwa kami sudah sampai di mall PVJ. Oya, dalam perjalanan angkot menuju PVJ aku menemukan kebun binatang Bandung juga lho. Sebenanrnya yang membuat aku jadi ingin mengunjungi Mall PVJ adalah karena penasaran katanya disana mallnya didesain seperti jalanan di Eropa. Dan ternyata memang iya. Outlet barang-barang branded pun menyebar di seantero gedung. Di bagian atap gedung juga sedang digarap taman untuk bersantai sekaligus ada arena ice skeating nya. Taman itu lumayan luas dan terlihat dikerjakan secara serius. Keren deh pasti kalo udah jadi. Kami berkeliling dan aku asyik foto-foto norak. Hehe.. Kami maksi di KFC untuk mengisi perut sambil makan batagor yang tadi beli sebelum ibadah cuma gak sempet dimakan. Udah dingin jadi gak enak deh, tapi tetep aja dimakan. Hehe..

 Arena permainan seluncur es yang bernama Garden Ice @PVJ.
Disebelahnya terdapat kebun yang luas untuk nongkrong.
Ini semua ada di bagian atap dari gedung lho kawan.

 Arena seluncuran yang lumayan luas

 Welcome to PVJ

 Wuah, ada bunga matahari yang menyambut kami

 Mall PVJ ini mempunyai konsep indoor tapi terasa seperti berjalan-jalan di Eropa

 Tenan dari merk ternama seperti Mango, ikut mengisi mall ini

 Ada juga minyak wangi jualannya Victoria Secret lho

 Wow, ada banyak boneka Teddy yang lucu.
Outlet ini berada di bagian dalam gedungnya.

Ada Daiso juga ternyata
Disini semua barangnya dijual serba 22K

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju Mall Ci Walk. Setelah bermodal tanya-tanya ke supir angkot akhirnya kami bisa menemukan tempatnya. Mall ini berada di jalan Ciampelas, tempatnya FO dan toko souvenir khas Bandung berjejeran. Kami main di mall ini lumayan lama. Mall ini tidak sepremium mall PVJ. Jadi aku pun masih bisa beli barang-barang disana. Kebetulan aku menemukan masker bergambar stitch yang adalah tokoh kartun favorit kesukaan teman sekantorku, di salah satu toko pernak pernik disana. Aku juga menemukan ada toko vcd yang menjual vcd bajakan lho. Pengunjungnya lumayan banyak dan surprise ajah rasanya bajakan bisa legally masuk mall gede gitu. Hehe.. Setelah lelah muter-muter, akhirnya pukul setengah 4 kami melanjutkan perjalanan menuju jalan Braga, untuk melihat bangunan-bangunan tempo dulu dan foto-foto. Tapi sayangnya ketika kami sedang dalam perjalanan mencari tempatnya, hujan turun. Huah,, Akhirnya daripada capek muter-muter nyari jalan Braga dan gak bisa poto-poto juga karena hujan, niat tersebut kami urungkan. Mungkin next time aku bisa kesana. Keinginan ku mencoba Mie kocok Bandung yang terkenal itu juga belum bisa kesampaian. Tapi gapapalah, bisa wisata mall di Dago juga udah menyenangkan banget. Kami pulang naik Damri menuju kembali ke kampus Unpad, kemudian dilanjut naik angkot sampai kosan Rachel.
  
 Welcome to Ci Walk Mall

 Sky Walk adalah salah satu daya tarik utama dari mall ini

 Foto jalanan di halaman mall diambil dari sky walk

 Rachel yang exist

 Pengunjung lain juga gak mau kalah exist lho

 Seni menggambar karikatur wajah ini bisa kita temukan juga di area sky walk

Diri ini juga gak bisa menahan untuk gak selfie

Dalam perjalanan yang melelahkan sepanjang hari itu, kami hanya mengandalkan tanya-tanya ke penumpang angkot dan supirnya untuk cara mencapai tempat tujuan kami. Satu poin yang berkesan dari perjalanan mandiri ku ke kota Bandung ini adalah keramahan penduduknya setiap kali aku bertanya arah. Mereka dengan ramah memberikan petunjuk arah yang benar dan membuat turis seperti aku ini jadi tidak kesasar di kota Bandung ini. Ada perasaan ingin kembali mengunjungi kota Bandung untuk menjelajah lebih banyak tempat yang seru dan asik. Kapan-kapan kalo aku ada waktu dan budget, serta di berikan kesehatan tentunya, pasti aku akan datang lagi kesana.

Bandung I’m in love with you again..


Cheers,

Kamis, 12 Juni 2014

Keliling Jakarta bareng #MpokSiti

Saya menulis ini disaat perasaan saya yang sedang merasa hambar akan rutinitas pekerjaan yang saya lakukan. Ya, menulis adalah cara saya untuk kembali megungkapkan isi hati dengan jujur, tulus dan membuat hati saya lebih bahagia. Sosok pribadi Tuhanlah yang saya sangat rindukan saat ini untuk memeluk saya dengan kedua tangannya yang penuh dengan cinta, kemudian memberi saya rasa bahagia dan damai. Tiada pernah Ia mengecewakanku. Sekalipun aku sering mengecewakanNya.

Untuk beberapa minggu ini saya tidak punya waktu untuk menulis karena merasa capek dan inginnya hanya langsung tidur ato melakukan hal santai lainnya saat dirumah. Padahal rasa malas itu sebenernya juga adalah bikinan saya sendiri kalo boleh dibilang. Itu adalah sebuah excuse saja. Saya merasa tanggungan 2 tulisan berikut ini seperti terus mengejar-ngejar agar saya segera memainkan jari-jari di tuts keyboard laptop. Inilah salah satu hasil dari petualangan saya dan sahabat saya sebulan yang lalu.

---00---


Bertepatan dengan hari kenaikan Tuhan Yesus, tanggal 29 Mei 2014, aku pertama kalinya menjajal yang namanya bus wisata keliling Jakarta atau yang dikenal dengan nama Jakarta City Tour Bus. Bis ini memiliki nama gaul yaitu Mpok Siti karena semua drivernya adalah wanita. Bis ini sudah memikat perhatianku sejak pertama kali mengetahuinya lewat mba google. Aku penasaran bagaimana sih perasaan naik bus tingkat. Apa seperti bis tingkat yang di kota Paris itu. Ternyata ya memang beda. Kalo yang Paris kan pas di tingkat duanya tidak ada atapnya. Sementara di Jakarta hal itu kurang memungkinkan karena alasan kondisi kesehatan. Asap polusi di kota Jakarta bisa mengganggu kesehatan paru-paru. Belum lagi aku ngebayangin, kalo kita ga awas saking asik ngeliat kekanan kiri, and tiba - tiba kita ga sadar ada cabang pohon udah nangkring di depan muka kita, apa gak amsyong muka kita. Hehe..

Siangnya aku ke gereja dulu dari jam setengah 12 sampai jam setengah 2. Kemudian aku segera meluncur ke terminal Blok M karena disanalah meeting point aku dengan rekan seperjalananku, Mba Asni. Dibis aku makan KFC yang bento box untuk menghemat waktu. Jalanan di hari kamis itu sangat lengang, karena memang hari libur. Bis ku pun melesat tanpa halangan, dan aku pun sampai di terminal Blok M pukul dua siang. Kami segera meluncur ke halte Bundaran HI karena disanalah halte bis City Tour berada. Tapi karena sedang ada proyek pembangunan stasiun MRT, maka Bis TJ kami tidak berhenti dsitu melainkan di halte Sarinah. Setelah mencari tau ke petugas halte busway, ternyata kami bisa naik bis City Tour dari halte Sarinah. Dan benar saja, sudah ada bis City Tour yang lagi mangkal disana. Aku dan mba Asni segera berjalan cepat agar tidak ketinggalan bis.

Halte Bundaran HI yang di nonaktifkan sementara waktu karena project MRT

Bis tingkat ini beroperasi setiap hari. Kalo hari Senin sampai Sabtu dari pukul 9 pagi sampai 7 malam, sementara kalo hari minggu beroperasi dari jam 12 siang sampe jam 7 malam karena Minggu pagi ada Car Free Day. Halte yang menjadi rute tour dan disinggahi sebenarnya banyak, tapi kalo mau amannya ya nunggu ajah di Halte Sarinah ajah. Karena bis City Tour ini tidak memperbolehkan penumpangnya berdiri karena mesti tetap memprioritaskan kenyamanan. Jadi kalo penumpangnya udah penuh ya terpaksa gak berhenti di setiap halte. Apalagi kalo hari libur, which is pasti rame sama anak-anak yang lagi libur sekolah. Oh ya bus City Tour ini gratis sampai akhir tahun lho ternyata, bukan sampai akhir Mei seperti yang diketahui lewat inet. Itu kata mas guidenya yang merupakan anggota komunitas Historia Jakarta. Bis City Tour ini mengajak kita mengelilingi Jakarta sembari mengenal history di belakangnya. Seperti penamaan halte Sarinah yang baru saya ketahui ternyata adalah nama mbok yang mengasuh presiden Sukarno. Nama mbok Sarinah dipakai sebagai nama jalan yang saat ini dikenal akan kesibukan perkantorannya, karena jasa-jasa mbok Sarinah kepada Sukarno.

Kami duduk di lantai dua agar bisa menikmati pemandangan kota Jakarta dengan view yang lebih istimewa. Banyak anak-anak yang naik bis ini ditemani oleh orang tua mereka. Mereka terlihat sangat antusias ketika bis ini mulai berkeliling. Kami diajak mengelingi daerah-daerah ini:

Bundaran HI—Sarinah—Museum Nasional—Halte Santa Maria—Pasar Baru—Gedung Kesenian Jakarta—Masjid Istiqlal—Istana Merdeka—Monas—Balaikota—Sarinah—Bundaran HI

  Suasana jalanan ketika bis mpok Siti akan mulai berangkat. Macet..

 Bundaran HI yang saat ini sedang di rombak. 
Kita lihat wajah barunya akan seperti apa nanti.

 Jangan lupa foto-foto dulu..
Penumpang yang lain juga banyak yang asyik foto-foto lho.

 Selfie mode ON

 Bis City Tour yang laris manis, penuh dengan penumpang.

Anak-anak sangat excited diajak berkeliling dengan bis tingkat.

 Masyarakat yang ingin gantian naik bis tingkat ini pun sudah banyak

 Dan akhir dari perjalanan ini pun tiba.
Penumpang antri turun dari bis.

Mba Asni bergaya di depan Bis City Tour seusai berkeliling.

Aku sangat menikmati perjalanan naik bis ini, begitu pun mba Asni. Selesai kami berkeliling Jakarta sekitar kurang lebih satu jam, kami melanjutkan perjalanan kami menuju Magnum Cafe. Ini adalah kunjunganku yang kedua kalinya kesini. Dan antrinya masih sama parahnya. Kami menunggu sekitar setengah jam untuk mendapat tempat duduk. Setelah menghabiskan es krim, kami segera meluncur menuju Plaza Indonesia. Aku penasaran dengan seberapa premiumnya mall ini. Dan ternyata memang sangat premium, terlihat dari kondisi mall nya yang cenderung sepi. Hanya kulihat sedikit pengunjung di mall ini, dan ada beberapa kaum ekspatriat disana. Harga barang yang dibanderol disana tidak main-main. Jam tangan bisa sampai 2 juta. Tas kecil selempang yang dari kulit itu dibaderol hampir sejuta sendiri. Memang mall ini mempunyai pangsa pasar untuk kelas atas dan kaum ekpatriat. Setelah cuci mata di PI, aku mesti segera pulang karena jam sudah menunjukkan pukul setengah 7 malam. Aku dan mba As segera mencari pilihan alternatif untuk pulang. Kami naik kopaja jur Blok M. Mba As turun di Blok M, sementara aku turun di st. Sudirman. Aku baru pertama kali ke stasiun ini dan lumayan penasaran juga karena kata temenku stasiun ini bagus ada eskalatornya. Tapi ternyata setelah disamperin, stasiunnya biasa ajah. Hehehe..

Setelah perhentian yang cukup lama di jalur kereta menuju st. Manggarai dikarenakan adanya antrian kereta, akhirnya aku pun tiba di stasiun Bekasi sekitar pukul 8 malam. Saat ini jika ditanya masih inginkah aku naik bis City Tour lagi, pastinya aku akan menjawab iyesss. :))

Sudah pernahkah kalian mencoba Bis City Tour Jakarta? 


Cheers,

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...