Senin, 16 Mei 2011
#5 : Ariyo Wahab
Diposting oleh
Yuanita Handoko
Aku menyukainya, tapi sebagai aktor, bukan sebagai penyanyi. Di film "Juli di Bulan Juni" aku mulai tertarik dengan aktingnya. Filmnya sendiri bagus dan inspiratif. Ia berpembawaan tenang, ekspesi wajahnya berbahasa, dan mencerminkan karakter dewasa. Ada dialog di dalam film tersebut yang maknanya dalam sekali bagiku. Sulit rasanya sekarang untuk menemukan dvd film itu lagi (kalau ada, pasti langsung kubeli, hehe..) Kemudian aku melihatnya lagi di film Maskot. Terpikat aku dengan aktingnya dan filmnya kocak (Nah, yang ini sudah kumiliki, asli pula tapi bekas rental, hehe). Memang kebiasaanku adalah kalau sudah "terkesima" dengan seorang aktor, penyanyi, whatsoever, biasanya film apapun, lagu apapun, karya apapun yang dihasilkannya, aku pasti suka. Karakter di setiap filmnya selalu berkesan bagiku. Karena itu teruslah berkarya Ariyo (sebagai aktor tentunya), hehe..
Kata-kata bijak
Diposting oleh
Yuanita Handoko
Impian seseorang hancur ketika ia membiarkan ketakutan bertumbuh lebih besar daripada imannya.
#4 : HUMOR
Diposting oleh
Yuanita Handoko
Tiga Amplop
Seorang calon manajer menghabiskan satu minggu di kantor baru bersama manajer yang akan dia gantikan. Pada hari terakhir manajer lama berpesan, "Aku telah meninggalkan tiga buah amplop di laci meja. Buka satu amplop jika Anda menghadapi krisis yang tidak bisa dipecahkan." Tiga bulan kemudian semuanya berjalan kacau dan manajer baru merasa sangat terancam untuk dipecat. Ingat kata-kata perpisahan dari pendahulunya ia membuka amplop pertama. Pesan di dalamnya mengatakan, "Salahkan pendahulu Anda!" Dia melakukannya dan akhirnya bebas. Sekitar setengah tahun kemudian, perusahaan ini mengalami penurunan drastis dalam penjualan, digabungkan dengan masalah produk yang serius. Manajer cepat membuka amplop kedua. Pesan itu berbunyi, " Reorganisasi!" Dia akhirnya melakukannya dan perusahaan pulih dengan cepat. Tiga bulan kemudian, pada krisis berikutnya, ia membuka amplop ketiga. Pesan di dalamnya mengatakan, "Siapkan segera tiga amplop!"
Sumber : Manna Sorgawi Edisi April 2011
Minggu, 08 Mei 2011
Hmmm...
Diposting oleh
Yuanita Handoko
Bersukacitalah dalam pengharapan..
Sabarlah dalam kesesakan..
Bertekunlah dalam doa..
(Rm 12:12)
nb :Minggu lalu aku mengalami situasi yang sulit kupahami, tapi syukurkah dapat kulalui dengan baik karena pertolonganNya.. Tq buat ayatnya, Om..
Minggu, 24 April 2011
untitled
Diposting oleh
Yuanita Handoko
Tetap membaca
Tetap menulis
Tetap bermain musik
Tetap bermimpi !!
22 April 2011
22:16
Tetap menulis
Tetap bermain musik
Tetap bermimpi !!
22 April 2011
22:16
Jumat, 22 April 2011
Xiao Long Bao: Camilan yang Nggak Bisa Sembarangan Dilahap
Diposting oleh
Yuanita Handoko
Yahoo Travel - Xiao Long Bao (semacam pangsit kuah kukus) adalah makanan favorit orang Cina yang berasal dari Shanghai. Makanan ini punya cara pengolahan yang sebenarnya sederhana. Kuah sup dibekukan, dipotong-potong dalam bentuk kotak kecil, dimasukkan bersama daging olahan atau apa pun yang ingin dimasukkan di dalam kulit.
Selanjutnya, adonan itu dikukus dalam krakat (rantang) bambu khusus pada suhu tinggi. Dengan cara ini, Xiao Long Bao terasa sangat nikmat dimakan selagi panas. Pada gigitan pertama itulah akan terasa kehangatan kuah sup yang sudah mencair di dalam pangsit.
Sebagai bagian dari makanan ringan, Xiao Long Bao terlihat unik karena penyajiannya yang menggunakan krakat bambu. Cara memakannya pun memberi pengalaman tersendiri. Pangsit kukus ini sudah enak dimakan tanpa apa pun, tetapi pasangan cuka hitam dan irisan jahe akan menambah kenikmatan pangsit kukus ini.
1. Saat krakat bambu dibuka, angkat perlahan-lahan Xiao Long Bao dari bagian atasnya, tepat di bawah kuncup. Jika terlalu cepat, kulit Xiao Long Bao yang rapuh bisa terkoyak karena masih menempel di kain alas dan kuah sup yang ada di dalam Xiao Long
Bao akan tumpah.
2. Campur jahe dan cuka hitam terlebih dahulu. Kemudian, letakkan jahe di bagian atas Xiao Long Bao dan rendam sejenak Xiao Long Bao di atas cuka hitam.
3. Letakkan Xiao Long Bao di sendok bubur dan gigit sedikit kulit Xiao Long Bao sehingga kuah akan otomatis tumpah di sendok.
4. Segera seruput sup itu dan gigit sedikit demi sedikit isi di dalamnya bersama dengan jahe yang terletak di bagian atas.
5. Jika cuka hitam dan jahe terasa kurang, celupkan dan tambah lagi jahenya. Pada awalnya, Xiao Long Bao hanya berisikan daging babi dan kulitnya pun berwarna putih. Namun sekarang makanan bisa dinikmati dengan berbagai isi seperti ayam giling, campuran berbagai ikan laut, atau daging merah. Kulit Xiao Long Bao pun sekarang tampil berwarna-warni.

Sebuah restoran di Singapura menyediakan delapan warna Xiao Long Bao yang sekaligus menampilkan delapan rasa berbeda, yaitu: orisinal (putih), ginseng (hijau), foie gras atau hati angsa (cokelat), black truffle, sejenis jamur (hitam), keju (kuning), crab roe atau telur kepiting (oranye), bawang putih (abu-abu) dan Sichuan (merah muda).
Xiao Long Bao hijau, yang berisikan daging ayam dengan campuran ginseng, terasa hangat ketika diseruput. Sedangkan campuran keju memberi rasa asin pada pangsit kukus berwarna kuning dan bumbu Sichuan memberi rasa pedas dan pahit sekaligus pada yang merah muda.
Satu set krakat terbesar isi 10 Xiao Long Bao foie gras atau black truffle harganya sekitar Rp 140 ribu. Sedangkan satu set krakat isi delapan Xiao Long Bao aneka warna, harganya sekitar Rp 120 ribu.
Seperti orang bilang, ada harga ada barang. Memang rasa kedua Xiao Long Bao dengan isi dua hal ini yang memiliki rasa terunik.
Hati angsa membuat kuah sup di dalam Xiao Long Bao foie gras lebih kental dan daging lebih empuk dikunyah. Sedangkan Xiao Long Bao black truffle juga menambah pengalaman mengunyah jamur yang lebih berstruktur.
Xia Long Bao dengan pasangan cuka hitam dan irisan jahe. Kredit foto: ThinkStock
Sebagai bagian dari makanan ringan, Xiao Long Bao terlihat unik karena penyajiannya yang menggunakan krakat bambu. Cara memakannya pun memberi pengalaman tersendiri. Pangsit kukus ini sudah enak dimakan tanpa apa pun, tetapi pasangan cuka hitam dan irisan jahe akan menambah kenikmatan pangsit kukus ini.
Cara benar melahap Xiao Long Bao
Makanan ini tidak bisa langsung dilahap dengan tangan, karena dijamin akan membuat jari dan lidah Anda langsung melepuh. Kuah yang ada di dalam pangsit pun bisa tumpah ke baju. Ini kiat khusus menikmati Xiao Long Bao dengan nyaman:1. Saat krakat bambu dibuka, angkat perlahan-lahan Xiao Long Bao dari bagian atasnya, tepat di bawah kuncup. Jika terlalu cepat, kulit Xiao Long Bao yang rapuh bisa terkoyak karena masih menempel di kain alas dan kuah sup yang ada di dalam Xiao Long
Bao akan tumpah.
2. Campur jahe dan cuka hitam terlebih dahulu. Kemudian, letakkan jahe di bagian atas Xiao Long Bao dan rendam sejenak Xiao Long Bao di atas cuka hitam.
3. Letakkan Xiao Long Bao di sendok bubur dan gigit sedikit kulit Xiao Long Bao sehingga kuah akan otomatis tumpah di sendok.
4. Segera seruput sup itu dan gigit sedikit demi sedikit isi di dalamnya bersama dengan jahe yang terletak di bagian atas.
5. Jika cuka hitam dan jahe terasa kurang, celupkan dan tambah lagi jahenya. Pada awalnya, Xiao Long Bao hanya berisikan daging babi dan kulitnya pun berwarna putih. Namun sekarang makanan bisa dinikmati dengan berbagai isi seperti ayam giling, campuran berbagai ikan laut, atau daging merah. Kulit Xiao Long Bao pun sekarang tampil berwarna-warni.
Xiao Long Bao Warna-warni
Sebuah restoran di Singapura menyediakan delapan warna Xiao Long Bao yang sekaligus menampilkan delapan rasa berbeda, yaitu: orisinal (putih), ginseng (hijau), foie gras atau hati angsa (cokelat), black truffle, sejenis jamur (hitam), keju (kuning), crab roe atau telur kepiting (oranye), bawang putih (abu-abu) dan Sichuan (merah muda).
Xiao Long Bao hijau, yang berisikan daging ayam dengan campuran ginseng, terasa hangat ketika diseruput. Sedangkan campuran keju memberi rasa asin pada pangsit kukus berwarna kuning dan bumbu Sichuan memberi rasa pedas dan pahit sekaligus pada yang merah muda.
Satu set krakat terbesar isi 10 Xiao Long Bao foie gras atau black truffle harganya sekitar Rp 140 ribu. Sedangkan satu set krakat isi delapan Xiao Long Bao aneka warna, harganya sekitar Rp 120 ribu.
Seperti orang bilang, ada harga ada barang. Memang rasa kedua Xiao Long Bao dengan isi dua hal ini yang memiliki rasa terunik.
Hati angsa membuat kuah sup di dalam Xiao Long Bao foie gras lebih kental dan daging lebih empuk dikunyah. Sedangkan Xiao Long Bao black truffle juga menambah pengalaman mengunyah jamur yang lebih berstruktur.
Oleh Syane Susita
--00--
Saya sendiri sangat ingin mencicipi makanan tersebut. Sampai-sampai ngiler tadi pas liat gambarnya, hehe.. Waktu itu saya pernah nonton sebuah program namanya "Rekomendasi" di O channel dan mengetahui ada restoran yang menyajikan makanan tersebut. Makanan tersebut terlihat sangat menggoda di tv. Yummy..
Saya tadi kebetulan membaca artikel tersebut dan jadi teringat lagi akan restoran yang suatu hari, sangat ingin saya kunjungi tersebut. Namanya Din Tai Fung Resto. Terdapat di beberapa tempat antara lain Plaza Senayan Arcadia, PIM 2, Pacific Place Mall dan Plaza Indonesia. Tapi harus siapkan kocek dulu nih kayanya kalau mau kesana, karena dari hasil blog walking, saya dapatkan info kalau satu buah pangsit saja, harganya kurang lebih sepuluh ribuan. Huah....
Senin, 18 April 2011
Aaagghhhh....
Diposting oleh
Yuanita Handoko
Hari ini aku kehilangan suaraku. Entah dimana ia bersembunyi. Di kantor pun aku sering bolak-balik kamar mandi karena batuk berderet-deret tak tertahankan. Komunikasi pun menjadi agak terhambat. Aku sudah minum obat teratur. Dan tadi sepulang kerja, aku agak lapar, aku minum susu kotak kesukaanku, dingin.. Hehe.. Kuharap ia, suaraku itu, cepat kembali lagi..
Timbul ide dalam benakku sore ini. Hal yang sudah lama tidak kulakukan. Tidak kusentuh lagi, kini mau kumulai lagi. Apa itu? Menjahit, membuat pakaian untuk diri sendiri. Minat untuk menjahit sudah ada dalam diriku sejak kecil. Bakat itu merupakan turunan dari mamaku yang seorang penjahit. Dari kecil aku suka sekali membuat baju-baju barbie. Baju untuk diri sendiri pun sempat beberapa kali aku buat. Sejak kuliah, hal itu sudah tidak kulakukan lagi. Malas, dengan prosesnya yang lama. Kalau beli jadi 'kan lebih cepat. Alasanku.
Entah, apakah ide ini akhirnya akan sungguh-sungguh melahirkan suatu karya atau sekedar euforia di sore hari. Kita lihat saja. Tapi, minimal dengan menuliskannya di ruang ini, aku tau ada komitmen yang harus kupegang. Rencana model baju yang akan kubuat girly sekali menurutku dan agak kurang "aku", tapi gapapalah, apa salahnya coba sesuatu yang baru. Ini aku peroleh dari searching-searching di situs pakaian favoritku, yesstyle.com.
gambar dari sini
Timbul ide dalam benakku sore ini. Hal yang sudah lama tidak kulakukan. Tidak kusentuh lagi, kini mau kumulai lagi. Apa itu? Menjahit, membuat pakaian untuk diri sendiri. Minat untuk menjahit sudah ada dalam diriku sejak kecil. Bakat itu merupakan turunan dari mamaku yang seorang penjahit. Dari kecil aku suka sekali membuat baju-baju barbie. Baju untuk diri sendiri pun sempat beberapa kali aku buat. Sejak kuliah, hal itu sudah tidak kulakukan lagi. Malas, dengan prosesnya yang lama. Kalau beli jadi 'kan lebih cepat. Alasanku.
Entah, apakah ide ini akhirnya akan sungguh-sungguh melahirkan suatu karya atau sekedar euforia di sore hari. Kita lihat saja. Tapi, minimal dengan menuliskannya di ruang ini, aku tau ada komitmen yang harus kupegang. Rencana model baju yang akan kubuat girly sekali menurutku dan agak kurang "aku", tapi gapapalah, apa salahnya coba sesuatu yang baru. Ini aku peroleh dari searching-searching di situs pakaian favoritku, yesstyle.com.
Kurang lebih sama modelnya..
Model bajunya maksudnya, bukan model orangnya, hehe..
gambar dari sini
Minggu, 17 April 2011
#3 : Korean Food, Wanna Try?
Diposting oleh
Yuanita Handoko
Sabtu siang, 9 April 2011, kami berempat, aku, Riri, Heidy, dan Wati sama-sama berpetualang mencoba makan makanan di restoran Korea. Restoran Korea itu sudah menjadi target operasiku dari jaman aku masih kuliah. Aku sering melihat plang namanya bertuliskan "restoran Bekasi Seoul" di pinggiran jalan raya Bekasi, tepatnya di depan ruko-ruko yang ada di sebelah Bekasi Cyber Park (BCP). Tapi waktu itu yang kulihat dari koasi selalu hanya plangnya saja (maklum saja, daerah itu dalah bagian dari rute perjalananku menuju kampus). Dalam hatiku, "Mana restorannya?". Hal itu membuatku amat penasaran. Akhirnya suatu saat, kucoba jelajahi ruko-ruko itu dan dengan tampang ragu-ragu aku mencoba berjalan terus ke dalam. Dan benarlah Kawan, memang restoran tersebut terletak di bagian paling belakang dari sederetan ruko yang ada. Dan karena aku masih ragu juga apa benar ini tempatnya, kutanyakan pada mbak-mbak yang sedang menyapu yang ada didepan resto tersebut. "Mbak, bener restoran ini nyediain makanan Korea?, tanyaku. Mbaknya pun menjawab iya. Lalu kutanyakan pula mengenai jam bukanya. Setelah mendapat informasi yang seadanya itu, aku langsung mengucapkan terimakasih dan meluncur pergi. Aku sungkan untuk bertanya banyak-banyak, karena memang belum ada rencana mau makan disana saat itu. Sejak saat itu, maka restoran Korea itu menjadi tempat impianku yang harus kudatangi suatu saat. Kawanku Riri, yang Korea Holic, langsung kuinfokan mengenai hal ini. Bahwa di Bekasi pun ternyata ada restoran Korea. Proyek impian ini harus kutuntaskan bersama dengannya, karena dia yang lebih mengerti mengenai makanan ataupun budaya orang Korea. Dan akhirnya, di Sabtu siang itu, misiku terlaksana sudah.
Sabtu itu, aku sudah janjian lewat sms-an dengan Riri dan Heidy, bahwa kami akan bertemu di BCP. Riri dan aku berangkat ke sana langsung sepulangnya dari kantor kami masing-masing. Kami sama-sama masuk setengah hari. Sementara Heidy dan Wati langsung berangkat dari rumah. Kira-kira jam satu siang, barulah kami semua berkumpul, aku yang paling terakhir sampai. Hehe.. Dan karena ada sesuatu yang harus kubeli di sana, maka aku bersama kawan-kawanku singgah sebentar di salah satu counter penjual aksesoris komputer. Setelah itu, barulah kami sama-sama meluncur ke restoran Korea. Aku sebagai guide-nya.
Sebenarnya dalam hati juga ada sedikit khawatir. Gimana kalo restonya 'gak buka. Huah, mana Wati dan Riri belum makan dari pagi. Bisa-bisa aku yang dimakan. Hahaha.. Tapi ternyata keadaan restonya masih sama seperti sedia kala, saat aku pertama kali mengunjunginya. Dengan ragu-ragu aku membuka pintu restonya. Huah, ternyata tempatnya elegan. Mbak nya pun lantas menoleh kepada kami dan bertanya, "Mau makan?". Kupikir ketika bertanya, ia pun sama ragu-ragunya dengan kami, mungkin berdasarkan pertimbangannya karena melihat potongan kami. Hehe..
Setelah itu kami masuk, dan diantarkan untuk duduk di tempat semacam lesehan gitu. Dan kami mulai memesan makanan. Ketika buku menu dibuka, kami tersentak, ternyata harganya lumayan semua (lumayan mahal maksudnya, hehe..) Kami akhirnya memutuskan untuk memesan Bulgogi, karena Riri sudah pernah makan makanan itu dan tau seperti apa bentuk dan rasanya. Di sepanjang kita makan, aku dan kawan-kawanku sering bertanya ini itu kepada mbak pelayannya. Ini apa mbak, itu apa mbak, huah malu juga sih, tapi sepertinya rasa penasaran dan keingintauan yang besar mengalahkan rasa malu itu sendiri. Biarpun agak norak tapi tetap norak secara terhormat bukan, haha... (membela diri)
Minuman pembuka pun datang. (Oya, kegiatan yang tidak kalah penting dari makan-makan adalah foto-foto, hehe..)
Disusul makanan pembukanya yaitu kimchi dan kawan-kawannya (including kacang rebus).
Baru saja berakhir
Hujan di sore ini
Menyisakan keajaiban
Kilauan indahnya pelangi
Tak pernah terlewatkan
Dan tetap mengaguminya
Kesempatan seperti ini
Tak akan bisa di beli
Bersamamu ku habiskan waktu
Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya
Janganlah berganti..
Janganlah berganti..
Sabtu itu, aku sudah janjian lewat sms-an dengan Riri dan Heidy, bahwa kami akan bertemu di BCP. Riri dan aku berangkat ke sana langsung sepulangnya dari kantor kami masing-masing. Kami sama-sama masuk setengah hari. Sementara Heidy dan Wati langsung berangkat dari rumah. Kira-kira jam satu siang, barulah kami semua berkumpul, aku yang paling terakhir sampai. Hehe.. Dan karena ada sesuatu yang harus kubeli di sana, maka aku bersama kawan-kawanku singgah sebentar di salah satu counter penjual aksesoris komputer. Setelah itu, barulah kami sama-sama meluncur ke restoran Korea. Aku sebagai guide-nya.
Sebenarnya dalam hati juga ada sedikit khawatir. Gimana kalo restonya 'gak buka. Huah, mana Wati dan Riri belum makan dari pagi. Bisa-bisa aku yang dimakan. Hahaha.. Tapi ternyata keadaan restonya masih sama seperti sedia kala, saat aku pertama kali mengunjunginya. Dengan ragu-ragu aku membuka pintu restonya. Huah, ternyata tempatnya elegan. Mbak nya pun lantas menoleh kepada kami dan bertanya, "Mau makan?". Kupikir ketika bertanya, ia pun sama ragu-ragunya dengan kami, mungkin berdasarkan pertimbangannya karena melihat potongan kami. Hehe..
Setelah itu kami masuk, dan diantarkan untuk duduk di tempat semacam lesehan gitu. Dan kami mulai memesan makanan. Ketika buku menu dibuka, kami tersentak, ternyata harganya lumayan semua (lumayan mahal maksudnya, hehe..) Kami akhirnya memutuskan untuk memesan Bulgogi, karena Riri sudah pernah makan makanan itu dan tau seperti apa bentuk dan rasanya. Di sepanjang kita makan, aku dan kawan-kawanku sering bertanya ini itu kepada mbak pelayannya. Ini apa mbak, itu apa mbak, huah malu juga sih, tapi sepertinya rasa penasaran dan keingintauan yang besar mengalahkan rasa malu itu sendiri. Biarpun agak norak tapi tetap norak secara terhormat bukan, haha... (membela diri)
Minuman pembuka pun datang. (Oya, kegiatan yang tidak kalah penting dari makan-makan adalah foto-foto, hehe..)
Kawanku Riri dan aku, cheers...
(Handuk putih gulung nan dingin itu bikin aku penasaran, apa fungsinya ya)
Teh korea, Boricha, rasanya aneh..
Yang bentuknya lonjong dan pedas di sebelah kanan itu adalah Kimchi.
Kimchi adalah sawi putih yang difermentasi. Rasanya aneh dan dingin.
Saus yang letaknya dibelakang teh korea itu namanya denja.
Kata mbaknya itu tauco yang difermentasi. Lagi-lagi aneh rasanya.
Nah, yang ini aku suka.
Sup telur "Kiran"
Kol gulung. Mirip sushi roll.
Lalu makanan utama pun muncul. Irisan daging sapi yang menggunung siap dimasak oleh pelayannya diatas kompor kecil yang bisa kami semua saksikan bersama. Setelah jadi bentuknya mirip teriyaki. Oya, di menu pembuka yang porsinya udah semeja sendiri itu, terdapat sambel yang unik. Karena ada ikan teri di dalamnya. Bagiku rasanya mirip bumbu nasi kucing yang jualan di deket rumahku. Hehe.. Aku juga mencoba cara makan seperti yang ada di serial Korea yang kutonton di TV. Aku mengambil selembar daun (entah daun apa itu), lalu diatasnya ditaruh potongan bawang putih, denja dan irisan daging bulgogi. Setelah itu, digulung-gulung lalu dimasukkan ke mulut deh. Nyam.. nyamm.. nyammm... Uueek, rasa daun. Hehe.. Setelah selesai makan, datanglah beberapa potong buah semangka sebagai menu penutup. Segaaarrr... (membantu menetralisir lidah setelah diobrak-abrik tak keruan oleh makanan Korea). Dan setelah selesai, kami lanjutkan acara dengan bersantai-santai sejenak sambil ngobrol-ngobrol dan nonton video boyband asal Korea di laptopnya Riri. Lalu Wati mengambil bonnya di kasir (untung kejadian nanya-nanya trus tadi tidak ikut di-charge sama mbaknya ya, hehe..) dan inilah saat yang terberat, yaitu saat mengeluarkan uang dari dompet kami masing-masing. Hehe.. Kami bayar dan kami ucapkan terimakasih kepada pelayan restonya. Lalu kami pulang.
Ini dia beberapa foto yang merekam moment-moment indah dan tidak terlupakan, saat itu.
Heidy, Riri dan aku.
Heidy, Riri dan Wati, masing-masing bergaya andalan.
Sarangheo..
Pelukan hangat..
(Lihat, daging bulgogi habis tersapu bersih)
Love is in the air..
(Kacang rebus lumayan laku, sementara dedaunannya tidak)
~ ~ ~
Baru saja berakhir
Hujan di sore ini
Menyisakan keajaiban
Kilauan indahnya pelangi
Tak pernah terlewatkan
Dan tetap mengaguminya
Kesempatan seperti ini
Tak akan bisa di beli
Bersamamu ku habiskan waktu
Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya
Janganlah berganti..
Janganlah berganti..
Tetaplah seperti ini..
(Sahabat Kecil - Ipang)
nb : ini cerita versiku, kalau ini cerita versi Heidy. Cekidot!
Dapet Award Nih..
Diposting oleh
Yuanita Handoko
Thanks to hapis buat awardnya.. 'Gak nyangka bakal dapat.
Aku jadi makin bersemangat nih untuk terus menulis.
Ini dia award yang kuterima:
Aku jadi makin bersemangat nih untuk terus menulis.
Ini dia award yang kuterima:
Mari sama-sama kita saling membangun blog kita yah..
Cheers,
Yuanita Handoko
#2 : cin(T)a, God is a Director, God is an Architect
Diposting oleh
Yuanita Handoko
Cina (diperankan Sunny Soon) dan Annisa (diperankan Saira Jihan) mencintai (T) dan (T) mencintai mereka berdua. Tapi Cina dan Annisa tidak dapat saling mencintai karena mereka memanggil (T) dengan nama yang berbeda.
(Coba kalian ganti (T) dengan Tuhan, mungkin kalian akan mengerti.)
Baru tadi akhirnya aku bisa menonton film karya anak bangsa ini, yang rasa penasarannya sebenarnya sudah muncul sejak lama. Tak sengaja kutemukan vcd-nya di kios penjual dvd dekat rumah. Langsung saja aku bertekad pasti akan membelinya. Rasa penasaran itu muncul karena waktu itu aku melihat making the movie nya di tv. Inti filmnya sih menceritakan kisah cinta dua insan yang berbeda keyakinan. Cina, seorang kristiani dan Annisa, seorang muslim. Dan disitu dibilang bahwa film ini unik karena hanya menampilkan wajah dua orang pemain, ya tokoh utamanya saja. Sekalipun ada tokoh extra pasti tidak pernah keliatan wajahnya. Dan sudah kubuktikan tadi dengan menontonnya. Ya cuma keliatan punggungnya sajalah, kakinya sajalah, bagian hidung ke bawah sajalah, sekalipun keliatan mukanya, eh pas 'gak kena cahaya, jadi sama saja, gelap-gelap juga mukanya. (Kasihan ya, yang jadi tokoh extranya, 'gak bisa exist, hehe..)
Bahasa film ini cenderung lugas dan blak-blakan. Di samping itu juga sarat dengan nilai-nilai yg terjadi di sekitar kehidupan sosial kita. Dialog-dialognya maut, sering membuatku tertawa geli sambil berpikir. Film ini mungkin tidak se-terkenal Laskar Pelangi atau Naga Bonar (karena kupikir ini film Indie), tapi menurutku ini film yang bagus. Sunny and Saira, they both act so good. Walau ketika menontonnya juga sambil kusaring baik-baik. Dan saranku sebaiknya begitu.
Scene yang paling berbekas di kepalaku adalah ketika sebelum makan, mereka berdoa bersama dengan cara yang unik.
Foto: http://godisadirector.files.wordpress.com/2009/04/cinta-lowres1.jpg
(Coba kalian ganti (T) dengan Tuhan, mungkin kalian akan mengerti.)
Baru tadi akhirnya aku bisa menonton film karya anak bangsa ini, yang rasa penasarannya sebenarnya sudah muncul sejak lama. Tak sengaja kutemukan vcd-nya di kios penjual dvd dekat rumah. Langsung saja aku bertekad pasti akan membelinya. Rasa penasaran itu muncul karena waktu itu aku melihat making the movie nya di tv. Inti filmnya sih menceritakan kisah cinta dua insan yang berbeda keyakinan. Cina, seorang kristiani dan Annisa, seorang muslim. Dan disitu dibilang bahwa film ini unik karena hanya menampilkan wajah dua orang pemain, ya tokoh utamanya saja. Sekalipun ada tokoh extra pasti tidak pernah keliatan wajahnya. Dan sudah kubuktikan tadi dengan menontonnya. Ya cuma keliatan punggungnya sajalah, kakinya sajalah, bagian hidung ke bawah sajalah, sekalipun keliatan mukanya, eh pas 'gak kena cahaya, jadi sama saja, gelap-gelap juga mukanya. (Kasihan ya, yang jadi tokoh extranya, 'gak bisa exist, hehe..)
Bahasa film ini cenderung lugas dan blak-blakan. Di samping itu juga sarat dengan nilai-nilai yg terjadi di sekitar kehidupan sosial kita. Dialog-dialognya maut, sering membuatku tertawa geli sambil berpikir. Film ini mungkin tidak se-terkenal Laskar Pelangi atau Naga Bonar (karena kupikir ini film Indie), tapi menurutku ini film yang bagus. Sunny and Saira, they both act so good. Walau ketika menontonnya juga sambil kusaring baik-baik. Dan saranku sebaiknya begitu.
Scene yang paling berbekas di kepalaku adalah ketika sebelum makan, mereka berdoa bersama dengan cara yang unik.
Foto: http://godisadirector.files.wordpress.com/2009/04/cinta-lowres1.jpg
Langganan:
Postingan
(
Atom
)













