Rabu, 21 Mei 2014

Going to Sea World Ancol with my friends!

Minggu, 04 Mei 2014 adalah hari dimana aku dan teman kantorku bertualang bersama melepas penat dari rutinitas kantor. Saat itu temanku ada yang membawa serta pasangannya juga. Perjalanan dimulai dari Bekasi menuju planetarium di Taman Ismail Marzuki Cikini, Jakarta Pusat. Setelah perhentian yang sesaat saja karena antrian yang sangat lama, kemudian kami segera beralih menuju Sea World Ancol. Setelah puas melihat biota laut, lalu dilanjutkan mengisi perut sejenak di kantin karyawan di dekat kompleks Sea World. Setelah perut kenyang, kami melanjutkan perjalanan menuju pantai Ancol. Menikmati semilir angin disana sambil makan cemilan dan es krim. Diakhiri dengan berjalan-jalan menelusuri jembatan pantai Ancol. Menemukan restoran Le Bridge dan gembok cintanya ala Jakarta. Cerita diakhiri dengan perjalanan pulang yang lumayan lancar menuju kembali ke Bekasi.

Here are some memories, let's take a look..!!

Sesampainya di kompleks planetarium, TIM Cikini


Udah sampe Ancol nih,, ^^

At Sea World Tunnel

Bright smile of us

Do you love me ??

Sea life in miniature

All Complete

Finding NEMOs..

Miss Linda A.C.T.I On !

Kepiting Laba-Laba Raksasa..
Aseli yang ini emang guede.

Ini kepiting laba-laba yang sudah diawetkan, kawan.

Foto-foto lagi sebelum beranjak ke pantai Ancol

Girls play out !!

Cheers,
Nita  

Europe On Screen 2014 Jakarta

Sabtu, 3 Mei 2014 aku pergi bertualang ke Erasmus Huis, sebuah pusat kursus bahasa Belanda di daerah Jakarta yang masih satu kompleks dengan kedutaan Belanda. Hari ini disana ada acara Europe On Screen, yang merupakan acara tahunan untuk memutarkan film-film Eropa terbaik. Film Eropa saya rasa berbeda dari film buatan Amerika karena memiliki alur yang kadang sulit dicerna dan bertempo lambat. Ajang EOS ini bisa jadi adalah ajang untuk berburu nonton film gratisan yang diadakan tiap tahun. Perjalanan dimulai sekitar pukul 9. Aku berangkat dari rumah dengan dandanan yang sudah keceh abiz, hehe.. Sebelumnya aku memastikan petualanganku kali ini akan ditemani dengan rekanku Riny, yang bersama diriku ke Jogja tahun lalu. Ia berangkat dari rumahnya yang berada di Jakarta Utara. Sekitar pukul sepuluh, ketika aku baru duduk di dalam bis Bekasi – Tanah Abang untuk menuju komdak, whatsapp ku pun berbunyi. Rupanya Riny mengabari bahwa ia sudah sampai di Erasmus Huis, tempat pemutaran film tersebut berlangsung. Memang jalanan di Sabtu pagi itu cukup lengang, jadi perjalanan Riny pun bisa cepat sampai. Ia bilang memang kalau jalanan Jakarta di hari libur seperti Sabtu ini memang akan “tandus” karena Jakarta kan memang daerah perkantoran. Jadi di hari libur, aktivitas di jalanan pun pasti tidak akan semacet hari kerja. 

Aku pun tiba di Erasmus sekitar pukul 10.30 dan tidak terlalu sulit untuk menemukan tempatnya. Aku naik kopaja 66 dari komdak lalu bilang ke sopir dan keneknya untuk minta diturunkan di kedutaan India yang terletak bersebelahan dengan Kedutaan Belanda. Orang sana sepertinya lebih familiar dengan kedutaan India karena film-film Indianya. Kalo gak salah, disana juga suka diputar film-film India dan masyarakat umum boleh menontonnya secara gratis lho. Setelah turun dari kopaja, akupun segera mencari pintu masuk dan bertanya ke satpam juga untuk memastikan. Ia menanyakan tujuan kedatanganku, dan setelahnya mempersilahkan aku masuk. Sebelumnya aku harus melalui pemeriksaan metal detektor dan scanning tas. Memang ketat sekali ya, namanya juga kedutaan, so pasti mesti ketat. Setelah melalui pemeriksaan aku pun dipersilahkan masuk ke area Erasmus Huis. Ada dua pintu masuk disana. Kalo ke kanan itu ke gedung pusat bahasanya yaitu Erasmus, sementara kalo ke kiri itu untuk menuju kompleks kedutaan Belanda. Setelah itu aku langsung bertemu dengan temanku Riny yang sedang duduk santai di bangku taman. Disana banyak sekali bangku untuk duduk-duduk santai. Aku dan Riny pun langsung ngobrol-ngobrol sembari menunggu antriannya dibuka.

Ada si kodok yang bikin gemes..

 Ini dia pusat bahasanya, Erasmus Taalcentrum..

 Tamannya luas dan tertata rapi.

 Di bagian belakang terdapat ruang terbuka yang bisa dijadikan sebagai area pertunjukan seni dan orkestra.

 Selfie mode on

Area Open Air Screening
Area ini sudah disiapkan untuk gelaran nonton bareng EOS nanti malem.

Sembari menunggu antrian dibuka, aku dan Riny berkeliling di dalam ruang pameran dan melihat ada sebuah perpustakaan. Saat aku mau masuk ke dalam ruang perpusnya, tiba-tiba ibu penjaganya menegorku. Ia mengatakan kalo yang bisa masuk ke dalam hanya anggota perpustakaannya saja. Dan jika ingin menjadi anggota perpusnya cukup membayar biaya keanggotaan sebesar 30 ribu rupiah saja kalo tidak salah. Lalu aku dan Riny jadi mengurungkan niat untuk melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang perpustakaan itu. Kami berjalan-jalan di dalam ruang pameran dan melihat berbagai foto yang sedang dipamerkan. Kali ini tema pamerannya adalah “Memories from Borneo”. Foto-foto tersebut diambil oleh ahli geologi Swiss bernama Wolfgang Leupold dan mengambil setting foto-foto Kalimantan dari tahun 1921-1927. Aku dan Riny jadi banyak berdiskusi tentang foto-foto ciamik yang dipamerkan disana.

Me and Riny

Setelah itu pintu antrian pun dibuka, dan kami melakukan proses registrasi dengan mencatat nama kami di buku pengunjung. Satu tiket hanya untuk satu penonton. Itulah aturannya. Jadi tidak bisa nitip-nitip. Setelah itu kami memilih bangku yang paling nyaman dan mulai menonton film pertama yaitu Ernest dan Celestine. Film kartun dari Perancis ini memang yang menjadi incaranku. Dan benar ternyata, film ini benar-benar menghibur kami semua yang nonton dan memberi pesan moral yang dalam tentang arti sebuah persahabatan. Gambarnya pun dibuat sederhana seperti lukisan cat air yang kita lihat kalo kita sedang membaca sebuah buku gambar. Sederhana tapi bagus. Jalan ceritanya juga gak membosankan. Walaupun di tengah-tengah terdapat kesalahan teknis yaitu gambarnya yang macet dan lumayan bikin kecewa, tapi itu tidak terlalu kami pikirkan lagi. Terbukti di akhir filmnya, kami semua yang nonton memberikan tepuk tangan yang gemuruh sebagai apresiasi untuk film tersebut. Dan aku pun juga jadi mendownloadnya sepulang dari sana. Karena aku ingin nonton lagi film yang bagus dan lucu itu.

 Suasana di dalam teater sebelum film diputar.
Beberapa warga asing juga menjadi penonton dalam ajang Festival Film Eropa ini.
 Salah satunya berada di depan kursi kami. ^^

Sebelum nonton, foto-foto lagi dunk!

Setelah film pertama selesai, dilanjutkan dengan jeda istirahat selama satu jam sebelum memasuki film kedua. Aku dan Riny pun segera mencari makan di luar, karena perut ku sudah keroncongan. Kami berjalan menyusuri pinggiran jalan di sekitar area kedutaan Belanda tersebut. Finally, kami hanya menemukan tukang mie ayam dan ada juga tukang siomay yang nangkring tepat di depan gedung. Sebenarnya ada restoran Hema (restoran masakan Belanda) yang terletak di dalam area kompleks Erasmus, tapi kami memutuskan untuk makan mie ayam yang di pinggir jalan saja (murmer ciiinnnn...)

Ada restoran HEMA di dalam kompleks kedutaan ini.

Setelah kenyang, kami masuk lagi ke dalam gedung itu untuk menunggu sampai antrian film kedua di buka. Ketika kami sedang duduk-duduk di salah satu kursi di halaman gedung dekat Hema, kami dihampiri oleh seorang wanita. Rupanya wanita itu adalah salah satu dari staff festival film tersebut. Dia memberi tau kepada pengunjung yang sedang menunggu di luar untuk masuk ke dalam gedung, karena antrian filmnya sudah akan dibuka. Kami masuk ke dalam gedung dan setelah mengantri tiket, kami lihat ternyata ruang di sebelah teater tersebut pintunya dibuka. Para pengunjung festival juga dipersilahkan masuk. Wow, ternyata di dalam disediakan jamuan makanan ringan dan minuman untuk para pengunjung. Ada roti seperti roti prancis yang atasnya di beri hiasan krim gitu. Aku juga kurang tau namanya apa, tapi yang jelas makanan itu tersaji dalam porsi bisa dimakan satu suapan masuk ke dalam mulut. Ada juga anggur hijau yang rasanya manis. Untuk minumannya aku pun tidak kalah bereksperimen. Disana tersaji wine dan jus jeruk. Aku pun mencoba wine untuk pertama kali. Rasanya pait dan setelah meminumnya membuat tenggorokan ku terasa hangat. Tapi bagi peminum non alkohol, bisa minum jus jeruk buavita yang tersaji disana. Kalo aku sih minum dua-duanya, mumpung gratis, hehe.. Oh iya, acara ini berarti bisa jadi ajang berburu wine gratisan juga ya selain untuk nonton gratisan. Mantaps! Hehehe.. Disana juga banyak kulihat kaum ekspatriat yang menjadikan event EOS ini sebagai ajang kumpul-kumpul. Kulihat para bule tersebut meneguk gelas wine itu dengan asik, karena minum wine kan memang sudah jadi kebiasaan di negara mereka untuk menghangatkan badan. Dan sebenarnya aku pun ingin foto-foto makanannnya juga, tapi jadi agak malu, karena di jamuan itu banyak orang-orang asingnya. Tapi akhirnya satu dua jepret sih dapet. Cuman sayang, pengen foto botol winenya belum kesampaian. Huah..

Para ekspatriat juga menjadikan EOS 2014 ini sekalian sebagai ajang gathering mereka. 

Aku cobain ini juga lho. Ada yang tau namanya apa ??

Setelah selesai dijamu dengan makanan ringan dan minuman, film kedua pun dimulai dan kami pun segera masuk ke dalam teater. Film kedua bercerita tentang autobiografi seorang tokoh pembela hak tenaga buruh di Polandia. Karena semi dokumenter gitu, jadi ceritanya lumayan berat. Tidak seperti film anak-anak yang lucu nan menghibur tadi. Walaupun begitu, ada beberapa part dari jalan ceritanya yang menggelitik dan membuat tertawa juga. Setelah filmnya berakhir sekitar pukul setengah 5 sore, kami pun langsung beranjak pulang menuju rumah kami masing-masing. Aku dan Riny menghabiskan waktu yang menyenangkan hari itu. Petualangan main ke Erasmus Huis, nonton dan makan gratisan ini pastinya tidak akan kulupakan. Btw, minggu depannya pun aku kembali mengunjungi festival film Eropa di Goethe Institut yang terletak di daerah Menteng. Festival film ini merupakan acara tahunan yang diadakan sekitar semingguan saja. Jadi ketika ada kesempatan dan ada waktunya, pastinya tidak akan kulewatkan. Di Goethe House yang merupakan tempat kursus bahasa Jerman tersebut, kami nonton dua buah film lagi seperti minggu lalu. Yang pertama itu film anak-anak yang menghibur, dan yang satunya lagi adalah film dokumenter. Senangnya,, pengalaman nonton EOS berhasil juga kesampaian tahun ini. ^^ 

 Berfoto di depan plakat Erasmus Huis gak boleh ketinggalan dong..

  EOS 2014, thank you.. !!

 Hasil rampokan disana.. :p

Ernest & Celestine dan Walesa.
Dua film berkualitas dari sekian banyak film terbaik yang diputar di ajang EOS 2014

Bulan depan bakal ada kidsfest lagi nih kawan yaitu festival film Eropa yang memutarkan khusus film anak-anak. Mudah-mudahan bisa dateng lagi dan menonton film yang bagus-bagus seperti tahun kemarin. Amin.

Cheers,

Nita
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...