Jumat, 30 Agustus 2013

Bandung I'm in love

Sabtu, 6 Juli 2013 saya berserta kawan-kawan dari kantor yang baru, berangkat ke kota Bandung untuk double mission, yaitu kondangan ke keluarga salah satu karyawan disini dan misi satunya lagi tidak lain tidak bukan pastinya untuk JALAN-JALAN. Saya sangat excited karena saya belum pernah mengunjungi tempat-tempat seperti Gunung Tangkuban Perahu dan pemandian air panas Ciater. Rute perjalanan dimulai dari kantor sebagai tempat berkumpul, lalu dilanjutkan menuju penginapan yang ada di daerah Subang. Setelah sampai di penginapan untuk menaruh barang, kami makan siang kemudian langsung menuju gunung Tangkuban Perahu yang berjarak tidak jauh dari situ. Aku sangat terkesima dengan keindahan kawah gunung Tangkuban Perahu. Disana kami semua tentunya mengabadikan moment tersebut dengan sesi foto-foto. :)) 

Kawah gunung Tangkuban Perahu yang indah.

Setelah puas menikmati keindahan alam gunung Tangkuban Perahu, kami berlanjut menuju pemandian air panas Sari Ater. Huah, inilah yang aku tunggu-tunggu. Aku penasaran seperti apa pemandian air panas itu, Kalau aku suka berkhayal mungkin seperti onsen di film-film Jepang, tapi versi Indonesia. Dan saat kami sampai disana, ramai sekali ternyata pengunjung yang sedang menikmati berendam air panas. Kami pun segera berganti baju lalu menikmati area pemandian yang seperti kali dan menikmati pancuran air panas. Disana terdapat beragam model area pemandian air panas, dari yang privat sampai yang berbentuk seperti kolam renang, Di hari yang sudah menjelang malam itu, kami pun menyelesaikan kunjungan kami di Ciater. Saya sangat menikmati mandi air panas disana, walaupun awalnya sempat merasa kepanasan karena belum biasa. Dan semakin malam ternyata Ciater bukannya makin sepi, tapi makin bertambah ramai lho kawan.

Ladies in action!

Setelah dari Ciater kami pulang menuju penginapan. Besok paginya kami melanjutkan perjalanan menuju kebun stroberi untuk acara petik buah sendiri. Sekitar pukul 11 siang, kami tiba di lahan stroberi yang lumayan luas, kemudian langsung menuju tempat pengambilan keranjang berserta gunting untuk memetik buah stoberi sepuasnya. Petugasnya memperingati kami bahwa stroberi yang dipetik tidak boleh langsung dimakan, karena masih mengandung obat pestisida. Jadi mesti dicuci dulu. Setelah merasa puas dengan hasil panenan masing-masing, kami langsung menuju kasir untuk menimbang stroberi. Setelahnya kami makan dulu, kemudian aku membeli kaos di toko souvenir yang ada di komplek kebun stroberi tersebut. Kami segera melanjutkan perjalanan menuju misi kami yang utama, yaitu menuju rumah tempat resepsi pernikahan salah satu keluarga karyawan diadakan. Di tengah jalan kami berhenti sebentar untuk membeli nanas dan tidak lupa untuk berfoto juga di kebun teh.

Hasil petikan stroberi temanku

Temanku dikelilingi kebun teh yang menghampar luas

Dari sana kami menuju tempat resepsi pernikahan, dan akhirnya tiba sekitar pukul 4 sore. Pulang dari kondangan, kami mengakhiri seri petualangan kami di Bandung dengan kepuasan di hati. Misi kami keduanya berhasil dijalankan dengan sukses. Kondangannya dapet, jalan-jalannya juga puas. Dengan ini, rasa penasaran ku pun terobati, and it makes me wanna explore another side of Bandung someday. Dago, I will find you.. :)) 

Kamis, 29 Agustus 2013

Korean Film Festival 2013

Sabtu, 29 Juni 2013 lalu, saya dan teman saya dari kantor saya bekerja dulu, kembali bertemu untuk janjian nonton festival film korea bareng. Festival ini diadakan oleh KCC (Korean Cultural Centre) bekerja sama dengan Blitzmegaplex untuk memperkenalkan film-film buatan negeri ginseng tersebut. Festival ini diadakan dari tanggal 25-30 Juni 2013 dan bertempat di dua tempat yaitu Blitzmegaplex Pacific Place Jakarta dan Paris Van Java Bandung. Saya tau informasi ini sebelumnya pas nonton film Coboy Junior Movie dimana ada thriller mengenai festival tersebut diputar di awal film. Selanjutnya saya searching di internet dan menemukan twitter dan websitenya.

Saya kemudian menghubungi teman saya yang kemarin nonton bareng juga di festival film anak. Kita membuat janji untuk bertemu di Pacific Place pukul setengah tiga, 2 jam sebelum film dimulai. Karena tiket bisa diambil langsung di tempat. Namun ternyata ketika saya sampai disana, tiket film untuk yang setengah 5 nya sudah habis terjual. Termasuk untuk waiting list pun antriannya sudah ditutup. Maklumlah ini kan hari Sabtu, ya weekend, dan film Korea kan memang lagi happening, jadi banyak yang minat. Tidak seperti saat mengantri tiket festival film anak kemarin, yang lancar tanpa hambatan dan pas kita masuk pun masih banyak kursi kosong, yang ini benar-benar berbeda 360 derajat. Orang-orang ternyata sudah mulai mengantri sejak pukul 11 (informasi berasal dari nanya ke petugas) padahal filmnya kan baru mulai pukul setengah 5 sore kawan, hadeuuhhh.. Film yang diputar pukul setengah 5 itu berjudul “Miracle in Cell No. 7” dan aku tuh pengen banget nonton film tersebut, soale berdasarkan hasil searching di Mbah Google, banyak yang bilang filmnya bagus, mengajak pemirsanya tertawa tapi juga menangis setelahnya. Hmm.. Tidak apalah, saya akan download filmnya nanti.. hehehe…

Sebelum mengantri untuk film kedua, aku dan mba As ketemuan dulu dan kita saling mengobrol tentang keadaan kami masing-masing. Mba Rima  saat itu masih di jalan, karena kendaraan dari Cikarang memang suka ngetem, ditambah jauh dan macetnya perjalanan Cikarang-Blok M membuat perjalanan mba Rima menjadi sangat lama. Selagi menunggu mba Rima, mba Asni sholat dulu dan aku membaca buku di Times Bookstore yang ada di sebelahnya. Times Bookstore kebanyakan menjual buku import, dan itu menjadi sesuatu yang baru yang jarang aku temui di toko buku di Bekasi. Ambience nya juga enak sekali, tenang, tidak begitu besar, dan terasa lengang. Memberikan semacam sensasi privasi ketika membaca buku disana. Aku pun menemukan sebuah buku dengan judul yang menarik.

Judulnya provokatif abiz, like this!

Sementara aku membaca, ternyata mba Rim sudah sampai dan menunggu di bawah. Aku pun menyusulnya dan bergabung bersama mba As yang sudah selesai sholat. Kami pun segera mengantri untuk film kedua yang akan diputar pukul 7 malam. Film tersebut berjudul Deranged. Sebenarnya ada dua pilihan film. Tetapi film yang satu lagi bercerita tentang jaman kerajaan Korea kuno, dan itulah juga mungkin yang membuat peminatnya lebih sedikit disbanding Deranged. Kita mengantri seperti mau mengantri sembako gratis. Berdesak-desakan sekali bahkan sampai petugasnya berteriak supaya kita tidak saling dorong-dorongan seperti itu. Kami menggunakan segenap kekuatan kami untuk menyelip-nyelip (aku pun mengeluarkan jurus yuyu kangkangku) dan bertahan dalam antrian yang sepenuh itu. Benar-benar perjuangan. Hmm., yang namanya barang gratisan itu memang peminatnya itu tidak pandang kasta ataupun status sosial ya. Hehehe..

Setelah mengantri lama, akhirnya kita dapet juga yang waiting list, karena yang tiket resminya ternyata udah ludes.Dan kita pun kehabisan tiket (lagi). Orang-orang ternyata sudah mengantri lebih awal. Padahal kita itu mulai mengatri sekitar pukul setengah 5 (2,5 jam sebelum filmnya dimulai ) tapi antriannya lagi-lagi sudah panjang. Si petugas sebelumnya yang aku tanya mengenai film kedua malah berkata untuk mengantri sejak pukul 6. Ckckck.. Apa jadinya pukul 6. Wong sekitar pukul setengah 6 saja sudah tak bersisa. Bahkan saat aku mengantar temanku Rini, untuk mengantri, dia langsung mendapat jawaban kurang enak dari si petugas. Petugas tersebut berkata bahwa untuk waiting list pun sudah tidak bisa, karena sudah terlalu banyak peminatnya. Menulis nama pun sudah tidak bisa. Palingan kalau mau gambling di tempat yang kemungkinan untuk bisa masuknya sangat kecil. Btw, aku bertemu dengan Rini di lantai bawah seusai aku, mba As dan mba Rim selesai mengantri tiket. Rini adalah teman kenalanku di acara nonton gratisan dari Japan Foundation. Dan kita kembali bertemu untuk kedua kalinya lagi-lagi di acara nonton gratisan, hehe..

Kami berempat mengisi perut yang sudah keroncongan di restoran Ta Wan yang ada di lantai 5. Kami semua memesan nasi goreng tetapi berbeda rasa. Mba As memesan nasi goreng ayam, mba Rim memesan nasi goreng kepiting, Rini nasi goreng nanas, dan aku nasi goreng seafood. Setelah selesai makan, aku dan rini langsung bergegas untuk mengantri di line waiting list. Sementara Mba As dan Mba Rim pergi untuk sholat dulu. 

Setelah kami menunggu, akhirnya nama-nama waiting list pun dipanggil. Dan hanya aku yang masih kedapatan tempat duduk untuk menyaksikan film “Deranged”. Aku pun masuk ke dalam meninggalkan kawan-kawanku. Sampai di dalam ternyata masih ada beberapa bangku kosong yang belum terisi. Ah, mestinya kawan-kawanku pun bisa masuk. Tapi mungkin karena dirasa film sudah berjalan terlalu jauh makanya tidak ada yg dipanggil lagi masuk. Sayang sekali ya, manajemen pengaturannya kurasa kurang bagus sehingga masih ada sisa kursi yang harusnya bisa dimanfaatkan oleh banyak banget penonton lain yang mau nonton.

Film pun berjalan selama kurang lebih 2 jam, dan sensasi nonton gratis kali ini berbeda dengan yang sebelumnya. Bukan hanya karena aku cuma sendirian, tapi karena pilihan film yang kebetulan aku nonton ternyata berkisah pembunuhan. Tidak seperti sebelumnya, dimana aku benar-benar dihibur oleh jalan ceritanya yang lucu dan inspirasional. Cerita kali ini hanya membawa ketegangan seusai menontonnya. Huahh.. 

Seusai film kelar, aku pun bergegas menyusul temanku yang sudah menunggu di halte luar mal. Ternyata mereka asyik berfoto ria lho sementara aku menonton tadi. Huah, aku jadi gag dapet sesi foto-fotonya deh, padahal lagi di mal tersebut lagi ada stage yang bertema Paris, yang diisi replika menara Eiffel tergantung yang indah banget. Tapi gapapalah, masih ada next time.. Aku belajar dari pengalaman kali ini, kalo yang namanya mau nonton gratisan memang mesti antri lebiiiiiiih awal, apalagi kalo tema filmnya itu populer seperti Film Korea dan Jepang. Aku, mba As dan Mb Rim pun pulang berjalan kaki menuju kosan mba As untuk acara menginap disana. Dan kami pun mengakhiri acara hari ini dengan sekali lagi aku membeli minuman kaleng di vending machine yang ada di dekat situ. :)

 Hanging Eiffel

 Rini and Mba Rim at a mini Eifel

 Mba As lagi jadi foto model nich

 Rini dan Mba As bergaya

 Mba As and Mba Rim with the beautiful Eifel

Pertama kali ke Pekan Raya Jakarta 2013

Pergi ke Jakarta Fair Kemayoran untuk pertama kali, aku dan temanku merasa sangat excited. Minggu, 16 Juni 2013, kami memutuskan untuk ngebolang bareng lagi. Kali ini target kami adalah Pekan Raya Jakarta, sebuah event pameran tahunan terbesar, terlengkap dan terlama (menurut slogannya) yang diadakan di Kemayoran.

Aku dan temanku Wiwit, janjian di stasiun Bekasi. Dari sana kami akan berangkat menuju stasiun Juanda. Setelah bertemu, kami langsung membeli tiket untuk keberangkatan sekitar pukul 11 siang, dan ternyata sekarang sudah diberlakukan e-ticket, walaupun tarifnya tetap sama seperti dulu. Menurut pengumuman di loket, baru mulai 1 Juli 2013 akan diberlakukan tarif progresif. Ya we’ll see-lah, apakah tarif tersebut akan terasa lebih ekonomis atau justru memberatkan masyarakat.
*update info, ternyata dengan adanya tarif progresif, tarif kereta sekarang jadi lebih murah lho. d^-^b

Suasana saat mengantri tiket kereta untuk berangkat

Kami tiba di stasiun Juanda pukul 12 siang, hari terasa sangat terik. Aku memutuskan untuk ke PRJ dari Monas, karena dari informasi yang kudapat, disana terdapat shuttle bus yang siap mengantar masyarakat yang ingin pergi ke Jakarta Fair.

Kami memutuskan untuk pergi ke Mesjid Istiqlal dulu, sekalian menemani temanku sholat. Mesjid tersebut berseberangan dengan gereja Katedral. Aku penasaran sekali dengan arsitektur keduanya. Ketika aku masuk ke dalam mesjid tersebut, wow, guedee sekali. Biasanya kalau pas perayaan Idul Fitri, tempat ini suka dijadikan tempat siaran langsung untuk sholat Ied bersama yang dihadiri Pak Presiden berserta jajaran pemerintah. Ada hall terbuka yang sangat luas disampingnya. Disitu aku melihat banyak orang yang bersantai setelah sholat, ataupun anak kecil yang main lari-larian. Tempatnya juga bagus lho buat foto-foto. ^^

 Suasana di dalam mesjid Istiqlal

Dikasih efek sensasi lomo biar lebih "sesuatu"

Foto-foto di pelataran mesjid yang sangat luas

Narsis dulu

Penampilan masjid Istiqlal dari luar

Tepat diseberang Mesjid Istiqlal, terdapat bangunan tua bergaya Eropa yang sangat cantik, gereja Katedral. Aku sangat amazed dengan suasana yang terlihat disana, sebab toleransi antarumat beragama disana benar-benar tercermin dengan sangat anggun. Aku pun tak akan melewatkan moment untuk mengambil foto bangunan gereja tersebut, yang juga dijadikan pemerintah sebagai bangunan cagar budaya. Tapi aku hanya bisa memotret dari luar, karena hari itu adalah hari Minggu, pastinya sedang ada ibadah. Lagipula memang belum tentu juga sembarang orang bisa masuk. Akhirnya kami pun hanya menikmati keindahan arsitektur bangunannya dari luar. Hmm.. tapi gapapalah, aku sudah cukup puas. Maybe next time aku bisa punya kesempatan untuk menikmati keindahan bangunannya dari dalam.

This beautiful photo was edited by @tatambull
 
Di halte Jl. Katedral

Ketika aku asyik memfoto gereja dari seberang jalan, kulihat ada beberapa orang Korea yang ingin menyeberang jalan malah jadi ikutan memotret gereja itu juga, hehe.. Kami berkeliling di sekitar gereja, dan aku menemukan buah saga yang berjatuhan. Hehe, jadi inget bikin prakarya pas SMP.

Kami lantas memutuskan untuk lanjut ke Monas, sekalian cari makan. Disana juga sedang diadakan pekan produk kreatif daerah, semacam festival seperti Jakarta Fair, tapi dalam skala lebih kecil. Kami jalan lumayan jauh menuju sana, dan setelah sampai kulihat banyak sekali masyarakat yang antusias datang ke Monas. Kami makan dengan soto ayam plus nasi, dan minum es kelapa. Wiwit juga membeli rujak berisi buah jambu, dan gorengan. Lumayanlah, bisa mengisi perut kami yang sudah keroncongan ini. Ketika kami melanjutkan perjalanan berkeliling Monas, sudah banyak stan yang bubar. Sepertinya karena memang acaranya sudah berlangsung sejak pagi.

Pertunjukkan tengkorak kayu yang bisa bergoyang di Monas

Kami pun menyusuri lapangan monas yang sangat luas. Pengap sekali rasanya ketika masuk ke dalam ruang pameran produk kreatif, kaya lagi di spa. Tidak ada fasilitas pendingin ruangan, sementara manusia yang masuk ke situ jumlahnya banyak sekali. Untuk berjalan saja sudah kesulitan. Saya pun segera ingin buru-buru keluar dari situ, panasss…

Hari sudah menunjukkan pukul 3 sore, kami segera mencari keberadaan shuttle bus yang katanya selalu mangkal di Monas. Kami bertanya kepada security, dan akhinya menemukan bis tersebut. Alamak, kaki ku tiba-tiba keram, tapi untunglah sudah dekat dengan bis. Segera ketika kami naik, kami merasa sangat nyaman. Aku sudah membayangkan, kalau yang namanya fasilitas dari pemerintah, apalagi gratis, biasanya kan ya gitu deh, serba apa adanya. Tapi ternyata enggak lho kawan, bisnya bagus, bis pariwisata gitu, lengkap dengan AC, dan full musik. Enak sekali rasanya berada di dalam bis tersebut, gratis lagi.. hehehe…

Di dalam shuttle bus yang mengantar kami ke PRJ

Jalanan macet sungguh. Kami pun tiba di PRJ sekitar pukul 5 sore. Langsung menuju loket pembelian tiket, kami membayar 30 ribu, untuk tarif hari Minggu. Kami masuk dan berkeliling sekitar situ. Pameran nya lumayan lengkap dan bervariasi. Saya juga melihat panggung musik yang sedang disiapkan untuk para musisi beraksi nanti malam. Kami pun membeli baju di gerai Point One. Setelah itu berkeliling taman kolam dan arena permainan yang ada disitu. Lumayan pegel berkeliling di dalam gedung pamerannya yang luas. Mata saya bukan hanya tertarik dengan beragam produk yang di pamerkan disana, tapi kehadiran para SPG yang rata-rata masih muda belia, juga menjadi sesuatu yang menarik untuk diperhatikan lho. Hehe..

Memasuki area depan PRJ, kami disambut oleh patung Hindu ini

Di area taman PRJ, sedang ada mini Brorbudur

Narsis di danau area PRJ

Sedang ada Korean Lantern Park lho disana

Hari sudah magrib beranjak malam. Kami pun membeli burger untuk bekal makan di bis. Dengan menukarkan kupon snack yang ada di kertas tiket masuk, kami bisa mendapat 2 burger dan 1 minuman Nu Green Tea dengan membayar 25 ribu. Plus saya juga mendapat kesempatan mengambil kupon undian berhadiah. And I’m Lucky.. Saya mendapat kupon bergambar setrika. Senang juga bisa pulang dengan membawa setrikaan boleh menang undian, hehe..

Kami pulang dari PRJ pukul 7 malam, naik shuttle bus lagi yang balik menuju Monas. Lagi-lagi macet parah. Apalagi setelah sampai di Monas, jalanan sudah penuh dengan motor. Malam disana bukannya sepi, tapi malah tambah rame dengan lautan manusia dan itu bikin macet parah. Kami lantas berjalan kaki menuju halte busway harmoni. Hari sudah menunjukkan pukul setengah 9 malam, kami sudah tidak mungkin melanjutkan perjalanan menuju kota, karena kereta pun jam segitu rasanya sudah tidak ada lagi. Kami pun naik busway menuju blok M, berharap masih ada bus ke Bekasi yang mangkal. Dan setelah sampai di terminal Blok M, ternyata kendaraan sudah sangat sepi. Kami pun akhirnya memutuskan pulang naik taksi, karena hari sudah terlalu malam. Mengantar temanku dulu sampai ke rumahnya, baru setelah itu aku. Jalanan untungnya tidak terlalu macet, dan pak sopir pun membawa kendaraannya dengan mulus. Aku pun akhirnya tiba di rumah pukul 11 malam. Petualangan hari itu pun selesai, dan aku tidak sabar dengan petualangan berikutnya. ^^

Ennichisai 2013 at Blok M "Jakarta Little Tokyo"


Pagi itu, Sabtu, 25 Mei 2013 hujan turun di daerah rumahku di Tambun, Bekasi. Dalam hati aku berkata, bagaimana acara nanti siang ya. Pasalnya nanti siang akan ada acara festival Jepang “Ennichisai 2013” di Jakarta Little Tokyo Blok M yang sudah kutunggu-tunggu. Sambil menyiapkan tas serta baju co-street, aku berharap semoga keadaanya bisa membaik. Dan perlahan tapi pasti, siangnya langit berubah cerah, dan hanya menyisakan sedikit rintik hujan. Ah, syukurlah!

Kemudian aku segera meluncur menuju Blok bareng si mamah, karena mamah katanya pengen liat seperti apa festivalnya. Aku pergi naik bis Bekasi-Blok M. Lumayan agak macet tapi tetep asikin ajalah. Sesampainya disana aku segera menemui temanku. Kami lumayan sulit ketika cari-carian, soalnya kawasan tersebut sudah dipenuhi lautan manusia sehingga untuk jalan saja lumayan sulit. Too crowded lah.. :D.

Memang sejak acara itu dimulai dari jam 12 siang,  sudah banyak orang yang berdatangan dengan antusias untuk menikmati festival tahunan tersebut, jadi gag heran pas aku sampe sekitar jam 2-an, suasananya masih ramai sekali.

Arak-arakan Dashi sedang disiapkan

Setelah aku dan temanku bertemu , kami langsung menuju kamar mandi untuk aku berganti pakaian co-street ala seifuku girl. Aku berpakaian ala seragam anak sekolah di Jepang. Hal yang baru pertama kali aku coba, dan ternyata seru banget. Walaupun agak malu awalnya, tapi yasudahlah dibawa PD ajah, toh disana banyak yang lebih “GILA” bergaya ala cosplay. Mungkin kalo aku pakai kostumnya di pinggir jalan, baru disangka gila beneran ya, hehehe…Sudah ganti kostum, aku memilih jalan sama temenku dan si mamah ngeluyur sendiri. :D Kami pun pergi berkeliling disekitar situ. Ada banyak booth yang menjual makanan khas Jepang seperti Takoyaki, Okonomiyaki, es parut, dll.. Beberapa penjual yang pernah kulihat tahun lalu, juga muncul lagi tahun ini. Banyak hal berbau Jepang lainnya yang dijual disana, seperti action figure, kostum cosplay, pernak-pernik Jepang ,dll. Pokoknya semarak deh..

 Okonomiyaki, dijual seharga 15 ribu.
Nyam.. Nyam..

Hasrat para fotografer pun juga menjadi terpuaskan, terbukti dengan banyaknya orang yang membawa kamera SLR, sibuk hunting foto untuk menangkap moment-moment yang bagus. Ada juga wartawan tv yang meliput acara itu lho, kulihat reporternya berpakaian yukata ala cowok.

 Arak-arakan pun dimulai..

 Wah, leader pawainya, seorang remaja putri terlihat bersemangat sekali..
Ganbatte..!!

 Tim pengarak yang terdiri dari anak-anak pun terlihat bersemangat menabuh genderang

 Sahabatku, Ulan-chan, berfoto dengan Maskot Ramen 38

 Kali ini Ulan-chan narsis dengan tokoh kartun populer dari Jepang, Doraemon.

Sesudah kita asik makan Okonomiyaki dan es krim, kami kehausan, dan segeralah meluncur ke circle K yang letaknya masih ada di dalam kawasan tersebut. Habis itu ya keliling lagi. Liat-liat aneka barang yang dijual di booth, foto2 narsis (terutama diriku yang ingin mengabadikan moment pertama kali berpakaian cosplay, hehe..). Lanjut aku belanja sedikit perintilan Jepang, n sorenya kita nari OBON. Yeeaayyy…
Aku memang sangat menunggu moment ini, soale kata temenku seru banget. Dan ternyata emang seru abisss.. ditemani lagu-lagu jepang (salah satunya opening Chibi Maruko Chan), pengunjung yang ingin ikut menari boleh bergabung ke lingkaran orang2 yang mengelilingi semacam menara kecil. Diatas menara itu, berdiri pemukul taiko yang dengan bersemangat menyanyikan lagu tarian obon. Kami diarahkan gayanya oleh penari yang berdiri di dekat menara. Kami menari sangat gembira sampai-sampai tidak sadar saat bergoyang, sepatuku ikut terlempar. Xixiiii…  *blushing.. Setelah acara Obon Odori itu selesai, hasilnya badan jadi keringetan dan kepala agak pusing, soale banyak gerakan muter-muternya, tapi over all fun banget, hati menjadi sangat gembira. :))

Hari menjelang malam, waktunya untuk temanku sholat magrib. Kami segera menuju kamar mandi untuk aku berganti baju dan temanku mengambil wudhu. Oh ya, sebelumnya ada mas-mas yang membagikan tisu basah. Langsung saja aku samperin, lumayan lah taun ini bisa dapet barang gratisan lagi, hehehe..

Setelah temanku selesai sholat, kami langsung menuju restoran Ramen 38 di Kamome Building yang letaknya tidak jauh dari kawasan tersebut. Tapi ternyata setelah sampai disana, restorannya tutup. Kami lantas bertanya kepada satpam di depan dan beliau menjelaskan bahwa  restoran tersebut sedang direnovasi, tempatnya akan dipindahkan ke lantai bawah. Yah apa boleh buat, ga bisa liat chef jepunnya langsung beraksi memasak disana deh. Perkiraan satpam tersebut, Ramen 38 akan baru kelar direnovasi sebulan lagi.
Kami lantas kembali meluncur ke area little Tokyo, untuk menikmati Ramen 38 di booth khusus yang ada disana. Aku memilih Ramen pork sementara temanku yang Soyu. Kami makan sambil mengobrol tentang banyak hal yang terjadi hari ini. Selesai makan sekitar pukul 8 malam, hari sudah mulai larut, maka kami memutuskan untuk segera pulang. Berakhirlah petualangan Ennichisai 2013 hari ini.

 Blok M, the Jakarta Little Tokyo
At night

 Tim pengarak tak ada lelahnya sekalipun berpawai sampai malam

Ramen Soyu at Ramen 38 Sanpachi, seharga 35K

Sebenernya besok masih ada pertunjukkan lagi, karena pawai ini diadakan selama dua hari yakni hari ini dan besok. Tapi kami rasa hari ini kami sudah cukup terpuaskan oleh berbagai hal menarik yang disajikan disana. Aku sangat salut dengan arak-arakan Mikoshi dan Dashi. Leadernya, seorang remaja Jepang, tidak ada lelahnya, selalu bersemangat beraksi sambil meneriakkan kata-kata “SOYU..!!” Semua team pengarak juga sama, mereka tidak ada lelahnya menggotong mikoshi dan dashi keliling area Blok M Square, padahal dalam sehari itu mereka bisa mengarak hingga 4 kali putaran. Wah, memang mantap semangat kerja keras orang Jepang itu, patut dicontoh. Akhir kata, moment kali ini menjadi moment yang tidak terlupakan dan sangat menyenangkan. Ureshiiiiiiiiiiiii…. :D 

Samuel Mulia "Bully" - Kolom Parodi Kompas Minggu

Setelah sekian lama tidak membaca karya Samuel Mulia, akhirnya saya sengaja membeli koran KOmpas edisi MInggu yang terbit tanggal 23 Juni 2013.
Saya kangen sudah lama tidak membaca karyanya yang menghibur sekaligus menggelitik batin. Padahal sebenarnya isi ceritanya adalah menyinggung sang penulis sendiri, tapi yang ada malah batin diri sendiri yang selalu terkena "kicauannya". :p
Berikut hasil tulisannya, semoga bisa bermanfaat.




Hoozue to Cafè Macchiato - By Atsuko Maeda



頬杖とカフェ・マキアー |
Hoozue to Cafè Macchiato |
By Atsuko Maeda (AKB48)

Intro:   E A B E E A B

E          A         B         E
samete shimatta KAFEE MAKIAATO
Am      E          A         B
MIRUKU no awa ga sabishiku mieru
E          A         B         E
anata no koto wo kangaete takara
Am      E          A         B
kuchi mo tsukezu ni booto shiteita
A         E          F#m     E
doushite dareka wo suki ni naru to
A         E          F#m     B         C#
watashi ga watashi janaku naru no?

Reff:
D#m    B
hoozue tsuite
C#       F#
kara ni kamotte
D#m    B         C#       F#
sugiteku jikan ni kizukazu ni...
D#m    B         C#       F#
yume no naka de ikiru you ni
D#m    B         Bm      E
"moshimo" bakari ga ukande kieteku yo

Intro:   E A B E E A B

E          A         B         E
hanbun nonda KAFE MAKIAATO
Am      E          A         B
sou itsumo yori nigaku kanjiru
E          A         B         E
denwa ka MEERU zutto machinagara
Am      E          A         B
isogashiinda to jibun ni iikikaseta
A         E          F#m     E
tomodachi dattara tamerawazu ni
A         E          F#m     B         C#
kokoro ni shoujiki ni nareru no ni...

Reff:
D#m    B
hoozue tsuite
C#       F#
kabe wo tsukutte
D#m    B         C#       F#
watashi no sekai ni hitorikiri
D#m    B         C#       F#
motto motto aitakute
D#m    B         Bm      E
koi no shikata ga wakaranaku naru yo

Intro:   E A B E C#m A B E 2x
            E A B C#

Reff:
D#m    B
hoozue tsuite
C#       F#
kara ni kamotte
D#m    B         C#       F#
sugiteku jikan ni kizukazu ni...
D#m    B         C#       F#
itsu no ma ni ka tasogarete
D#m    B         Bm     
kyou mo owatteshimau
D#m    B
hoozue tsuite
C#       F#
kabe wo tsukutte
D#m    B         C#       F#
watashi no sekai ni hitorikiri
D#m    B         C#       F#
motto motto aitakute
D#m    B         Bm      E
koi no shikata ga wakaranaku naru yo

Intro:   E A B E E A B E

Lyrics by Mbah Gugel
Chords by Nita
P.S: I dedicate this song for one of my co-workers, because he is a truely AKB lover. :)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...