Sabtu, 14 Juni 2014

Bandung I'm in love again

Tanggal 24-26 Mei 2014, aku mengunjungi kota Bandung kembali. Sebuah pertemuan yang sudah kunantikan. Aku akhirnya bisa punya waktu yang cukup untuk main ke kosan sahabat ku di Nangor. Ya walaupun itu sudah termasuk wilayah Sumedang, tapi aku bisa mengunjungi kota Bandung di hari Minggunya karena gereja kawan ku itu ada di daerah Dago. Huah, finally Dago I get you!

Ceritanya hari Seninnya, tanggal 26 Mei, aku sudah mengajukan cuti sehari ke kantor dua minggu sebelumnya. Karena hari Selasa itu tanggal merah jadi Senin itu ceritanya hari kejepit. Sekalian ajah aku pakai untuk long weekend. Aku berangkat menuju Cileunyi tempat meeting point aku dengan Rachel yang kos di dekat sana. Ini adalah pengalaman pertamaku ke Cileunyi naik primajasa sendirian lagi. Jadi agak sedikit deg-degan. Takut nyasar. Sepanjang perjalanan aku menginfokan by sms ke Rachel tentang letak posisi ku dan dimana aku harus turun dari bis. Karena lewat tol dan bis primajasa itu nyaman (baca: ber-AC dan full music) jadi sepanjang perjalanan lancar dan asik-asik ajah. Ditambah ibu yang duduk di sebelahku juga kebetulan turun di cileunyi, jadi ada barengannya. Ah, aman..

Setelah kurang lebih dua setengah jam perjalanan, akhirnya aku melewati tol Cileunyi dan turun di jalan besar dekat sana. Aku bertemu dengan kawanku dan langsung menuju kosannya. Kami menghabiskan malam itu di kosan dengan ngobrol, main gitar pinjem punya kakak kos sebelah sambil mengaransemen lagu. Malam itu kami jamming sampai kami jam 9 malam. Suara Rachel sudah terdengar lelah, jari-jari ku pun sudah keram. Tapi hasil aransemen kami pun akhirnya finish! Yeayy, tinggal tunggu tanggal mainnya aja nih.. :) Seperti biasa, kami tidak langsung tidur melainkan ngobrol sampai tengah malam.

Besoknya kami bangun jam 5 pagi untuk siap-siap ke gereja. Kami naik bis jemputan ke gereja GII di Dago yang disediakan tepat di samping kampus Rachel, UNPAD. Kami sampai di bis sekitar pukul setengah 8, kemudian bis berangkat pukul 8. Sekitar pukul 9 kami sampai di GII Dago. Kami mencari makan dulu sembari menunggu gereja dimulai. Ketika sedang berkeliling cari cemilan, aku melihat ada keramaian di dekat sana. Terdengar juga suara yang tidak asing seperti sedang diwawancarai. Ternyata ada pak Ridwan Kamil disana. Huaah, kebetulan sekali. Aku bisa melihat beliau secara langsung untuk pertama kalinya. Aku pun tak kalah ikutan foto-fotoin beliau seperti wartawan lain yang ada disana. Jiwa jurnalisme ku bangkit. Hehehe..

Bapak Ridwan Kamil ditemani istri tercinta, sedang mengunjungi salah satu stan di festival BAM
(Bandung Agri Market)

 Banyak wartawan, jadinya aku nyelap-nyelip ajah biar bisa ngambil foto juga :D

 Ada festival maka ada yang jualan, ada makanan dan ada musik

Bandung Agri Market akan digelar di setiap kecamatan di Kota Bandung.
Tujuannya untuk memperkenalkan buah-buahan dan sayuran lokal serta mengurangi konsumsi buah dan sayuran impor.

Pak Emil juga gak lupa untuk nge-update event ini di twitter pribadinya lho

Jam 10 ibadah pun dimulai. Di dalam gereja yang bercirikan kultur Mandarin itu, disediakan dispenser, jadi aku bisa isi botol minumku deh, lumayan buat stock air selama perjalanan nanti. Sekitar pukul 12 ibadah pun selesai. Berarti ini saatnya menjelajah sekitar Dago.

Kami mengunjungi mall PVJ terlebih dahulu. Aku buta arah, Rachel juga. Dengan mengandalkan informasi dari kaskus hasil googling semalam dan bertanya kepada petugas polisi, kami pun sampai di mall Paris Van Java tersebut. Kami naik angkot dari depan mall Batos yang berseberangan dengan gereja GII. Kami naik angkot ijo item nomer 05 jurusan Cicaheum-Ledeng, kemudian dilanjut naik angkot kuning ijo nomer 35 jurusan karang setra-kalapa. Kami sempat kebabalasan, tapi untungnya seorang ibu memberi tau kami bahwa kami sudah sampai di mall PVJ. Oya, dalam perjalanan angkot menuju PVJ aku menemukan kebun binatang Bandung juga lho. Sebenanrnya yang membuat aku jadi ingin mengunjungi Mall PVJ adalah karena penasaran katanya disana mallnya didesain seperti jalanan di Eropa. Dan ternyata memang iya. Outlet barang-barang branded pun menyebar di seantero gedung. Di bagian atap gedung juga sedang digarap taman untuk bersantai sekaligus ada arena ice skeating nya. Taman itu lumayan luas dan terlihat dikerjakan secara serius. Keren deh pasti kalo udah jadi. Kami berkeliling dan aku asyik foto-foto norak. Hehe.. Kami maksi di KFC untuk mengisi perut sambil makan batagor yang tadi beli sebelum ibadah cuma gak sempet dimakan. Udah dingin jadi gak enak deh, tapi tetep aja dimakan. Hehe..

 Arena permainan seluncur es yang bernama Garden Ice @PVJ.
Disebelahnya terdapat kebun yang luas untuk nongkrong.
Ini semua ada di bagian atap dari gedung lho kawan.

 Arena seluncuran yang lumayan luas

 Welcome to PVJ

 Wuah, ada bunga matahari yang menyambut kami

 Mall PVJ ini mempunyai konsep indoor tapi terasa seperti berjalan-jalan di Eropa

 Tenan dari merk ternama seperti Mango, ikut mengisi mall ini

 Ada juga minyak wangi jualannya Victoria Secret lho

 Wow, ada banyak boneka Teddy yang lucu.
Outlet ini berada di bagian dalam gedungnya.

Ada Daiso juga ternyata
Disini semua barangnya dijual serba 22K

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju Mall Ci Walk. Setelah bermodal tanya-tanya ke supir angkot akhirnya kami bisa menemukan tempatnya. Mall ini berada di jalan Ciampelas, tempatnya FO dan toko souvenir khas Bandung berjejeran. Kami main di mall ini lumayan lama. Mall ini tidak sepremium mall PVJ. Jadi aku pun masih bisa beli barang-barang disana. Kebetulan aku menemukan masker bergambar stitch yang adalah tokoh kartun favorit kesukaan teman sekantorku, di salah satu toko pernak pernik disana. Aku juga menemukan ada toko vcd yang menjual vcd bajakan lho. Pengunjungnya lumayan banyak dan surprise ajah rasanya bajakan bisa legally masuk mall gede gitu. Hehe.. Setelah lelah muter-muter, akhirnya pukul setengah 4 kami melanjutkan perjalanan menuju jalan Braga, untuk melihat bangunan-bangunan tempo dulu dan foto-foto. Tapi sayangnya ketika kami sedang dalam perjalanan mencari tempatnya, hujan turun. Huah,, Akhirnya daripada capek muter-muter nyari jalan Braga dan gak bisa poto-poto juga karena hujan, niat tersebut kami urungkan. Mungkin next time aku bisa kesana. Keinginan ku mencoba Mie kocok Bandung yang terkenal itu juga belum bisa kesampaian. Tapi gapapalah, bisa wisata mall di Dago juga udah menyenangkan banget. Kami pulang naik Damri menuju kembali ke kampus Unpad, kemudian dilanjut naik angkot sampai kosan Rachel.
  
 Welcome to Ci Walk Mall

 Sky Walk adalah salah satu daya tarik utama dari mall ini

 Foto jalanan di halaman mall diambil dari sky walk

 Rachel yang exist

 Pengunjung lain juga gak mau kalah exist lho

 Seni menggambar karikatur wajah ini bisa kita temukan juga di area sky walk

Diri ini juga gak bisa menahan untuk gak selfie

Dalam perjalanan yang melelahkan sepanjang hari itu, kami hanya mengandalkan tanya-tanya ke penumpang angkot dan supirnya untuk cara mencapai tempat tujuan kami. Satu poin yang berkesan dari perjalanan mandiri ku ke kota Bandung ini adalah keramahan penduduknya setiap kali aku bertanya arah. Mereka dengan ramah memberikan petunjuk arah yang benar dan membuat turis seperti aku ini jadi tidak kesasar di kota Bandung ini. Ada perasaan ingin kembali mengunjungi kota Bandung untuk menjelajah lebih banyak tempat yang seru dan asik. Kapan-kapan kalo aku ada waktu dan budget, serta di berikan kesehatan tentunya, pasti aku akan datang lagi kesana.

Bandung I’m in love with you again..


Cheers,

Kamis, 12 Juni 2014

Keliling Jakarta bareng #MpokSiti

Saya menulis ini disaat perasaan saya yang sedang merasa hambar akan rutinitas pekerjaan yang saya lakukan. Ya, menulis adalah cara saya untuk kembali megungkapkan isi hati dengan jujur, tulus dan membuat hati saya lebih bahagia. Sosok pribadi Tuhanlah yang saya sangat rindukan saat ini untuk memeluk saya dengan kedua tangannya yang penuh dengan cinta, kemudian memberi saya rasa bahagia dan damai. Tiada pernah Ia mengecewakanku. Sekalipun aku sering mengecewakanNya.

Untuk beberapa minggu ini saya tidak punya waktu untuk menulis karena merasa capek dan inginnya hanya langsung tidur ato melakukan hal santai lainnya saat dirumah. Padahal rasa malas itu sebenernya juga adalah bikinan saya sendiri kalo boleh dibilang. Itu adalah sebuah excuse saja. Saya merasa tanggungan 2 tulisan berikut ini seperti terus mengejar-ngejar agar saya segera memainkan jari-jari di tuts keyboard laptop. Inilah salah satu hasil dari petualangan saya dan sahabat saya sebulan yang lalu.

---00---


Bertepatan dengan hari kenaikan Tuhan Yesus, tanggal 29 Mei 2014, aku pertama kalinya menjajal yang namanya bus wisata keliling Jakarta atau yang dikenal dengan nama Jakarta City Tour Bus. Bis ini memiliki nama gaul yaitu Mpok Siti karena semua drivernya adalah wanita. Bis ini sudah memikat perhatianku sejak pertama kali mengetahuinya lewat mba google. Aku penasaran bagaimana sih perasaan naik bus tingkat. Apa seperti bis tingkat yang di kota Paris itu. Ternyata ya memang beda. Kalo yang Paris kan pas di tingkat duanya tidak ada atapnya. Sementara di Jakarta hal itu kurang memungkinkan karena alasan kondisi kesehatan. Asap polusi di kota Jakarta bisa mengganggu kesehatan paru-paru. Belum lagi aku ngebayangin, kalo kita ga awas saking asik ngeliat kekanan kiri, and tiba - tiba kita ga sadar ada cabang pohon udah nangkring di depan muka kita, apa gak amsyong muka kita. Hehe..

Siangnya aku ke gereja dulu dari jam setengah 12 sampai jam setengah 2. Kemudian aku segera meluncur ke terminal Blok M karena disanalah meeting point aku dengan rekan seperjalananku, Mba Asni. Dibis aku makan KFC yang bento box untuk menghemat waktu. Jalanan di hari kamis itu sangat lengang, karena memang hari libur. Bis ku pun melesat tanpa halangan, dan aku pun sampai di terminal Blok M pukul dua siang. Kami segera meluncur ke halte Bundaran HI karena disanalah halte bis City Tour berada. Tapi karena sedang ada proyek pembangunan stasiun MRT, maka Bis TJ kami tidak berhenti dsitu melainkan di halte Sarinah. Setelah mencari tau ke petugas halte busway, ternyata kami bisa naik bis City Tour dari halte Sarinah. Dan benar saja, sudah ada bis City Tour yang lagi mangkal disana. Aku dan mba Asni segera berjalan cepat agar tidak ketinggalan bis.

Halte Bundaran HI yang di nonaktifkan sementara waktu karena project MRT

Bis tingkat ini beroperasi setiap hari. Kalo hari Senin sampai Sabtu dari pukul 9 pagi sampai 7 malam, sementara kalo hari minggu beroperasi dari jam 12 siang sampe jam 7 malam karena Minggu pagi ada Car Free Day. Halte yang menjadi rute tour dan disinggahi sebenarnya banyak, tapi kalo mau amannya ya nunggu ajah di Halte Sarinah ajah. Karena bis City Tour ini tidak memperbolehkan penumpangnya berdiri karena mesti tetap memprioritaskan kenyamanan. Jadi kalo penumpangnya udah penuh ya terpaksa gak berhenti di setiap halte. Apalagi kalo hari libur, which is pasti rame sama anak-anak yang lagi libur sekolah. Oh ya bus City Tour ini gratis sampai akhir tahun lho ternyata, bukan sampai akhir Mei seperti yang diketahui lewat inet. Itu kata mas guidenya yang merupakan anggota komunitas Historia Jakarta. Bis City Tour ini mengajak kita mengelilingi Jakarta sembari mengenal history di belakangnya. Seperti penamaan halte Sarinah yang baru saya ketahui ternyata adalah nama mbok yang mengasuh presiden Sukarno. Nama mbok Sarinah dipakai sebagai nama jalan yang saat ini dikenal akan kesibukan perkantorannya, karena jasa-jasa mbok Sarinah kepada Sukarno.

Kami duduk di lantai dua agar bisa menikmati pemandangan kota Jakarta dengan view yang lebih istimewa. Banyak anak-anak yang naik bis ini ditemani oleh orang tua mereka. Mereka terlihat sangat antusias ketika bis ini mulai berkeliling. Kami diajak mengelingi daerah-daerah ini:

Bundaran HI—Sarinah—Museum Nasional—Halte Santa Maria—Pasar Baru—Gedung Kesenian Jakarta—Masjid Istiqlal—Istana Merdeka—Monas—Balaikota—Sarinah—Bundaran HI

  Suasana jalanan ketika bis mpok Siti akan mulai berangkat. Macet..

 Bundaran HI yang saat ini sedang di rombak. 
Kita lihat wajah barunya akan seperti apa nanti.

 Jangan lupa foto-foto dulu..
Penumpang yang lain juga banyak yang asyik foto-foto lho.

 Selfie mode ON

 Bis City Tour yang laris manis, penuh dengan penumpang.

Anak-anak sangat excited diajak berkeliling dengan bis tingkat.

 Masyarakat yang ingin gantian naik bis tingkat ini pun sudah banyak

 Dan akhir dari perjalanan ini pun tiba.
Penumpang antri turun dari bis.

Mba Asni bergaya di depan Bis City Tour seusai berkeliling.

Aku sangat menikmati perjalanan naik bis ini, begitu pun mba Asni. Selesai kami berkeliling Jakarta sekitar kurang lebih satu jam, kami melanjutkan perjalanan kami menuju Magnum Cafe. Ini adalah kunjunganku yang kedua kalinya kesini. Dan antrinya masih sama parahnya. Kami menunggu sekitar setengah jam untuk mendapat tempat duduk. Setelah menghabiskan es krim, kami segera meluncur menuju Plaza Indonesia. Aku penasaran dengan seberapa premiumnya mall ini. Dan ternyata memang sangat premium, terlihat dari kondisi mall nya yang cenderung sepi. Hanya kulihat sedikit pengunjung di mall ini, dan ada beberapa kaum ekspatriat disana. Harga barang yang dibanderol disana tidak main-main. Jam tangan bisa sampai 2 juta. Tas kecil selempang yang dari kulit itu dibaderol hampir sejuta sendiri. Memang mall ini mempunyai pangsa pasar untuk kelas atas dan kaum ekpatriat. Setelah cuci mata di PI, aku mesti segera pulang karena jam sudah menunjukkan pukul setengah 7 malam. Aku dan mba As segera mencari pilihan alternatif untuk pulang. Kami naik kopaja jur Blok M. Mba As turun di Blok M, sementara aku turun di st. Sudirman. Aku baru pertama kali ke stasiun ini dan lumayan penasaran juga karena kata temenku stasiun ini bagus ada eskalatornya. Tapi ternyata setelah disamperin, stasiunnya biasa ajah. Hehehe..

Setelah perhentian yang cukup lama di jalur kereta menuju st. Manggarai dikarenakan adanya antrian kereta, akhirnya aku pun tiba di stasiun Bekasi sekitar pukul 8 malam. Saat ini jika ditanya masih inginkah aku naik bis City Tour lagi, pastinya aku akan menjawab iyesss. :))

Sudah pernahkah kalian mencoba Bis City Tour Jakarta? 


Cheers,

Rabu, 21 Mei 2014

Going to Sea World Ancol with my friends!

Minggu, 04 Mei 2014 adalah hari dimana aku dan teman kantorku bertualang bersama melepas penat dari rutinitas kantor. Saat itu temanku ada yang membawa serta pasangannya juga. Perjalanan dimulai dari Bekasi menuju planetarium di Taman Ismail Marzuki Cikini, Jakarta Pusat. Setelah perhentian yang sesaat saja karena antrian yang sangat lama, kemudian kami segera beralih menuju Sea World Ancol. Setelah puas melihat biota laut, lalu dilanjutkan mengisi perut sejenak di kantin karyawan di dekat kompleks Sea World. Setelah perut kenyang, kami melanjutkan perjalanan menuju pantai Ancol. Menikmati semilir angin disana sambil makan cemilan dan es krim. Diakhiri dengan berjalan-jalan menelusuri jembatan pantai Ancol. Menemukan restoran Le Bridge dan gembok cintanya ala Jakarta. Cerita diakhiri dengan perjalanan pulang yang lumayan lancar menuju kembali ke Bekasi.

Here are some memories, let's take a look..!!

Sesampainya di kompleks planetarium, TIM Cikini


Udah sampe Ancol nih,, ^^

At Sea World Tunnel

Bright smile of us

Do you love me ??

Sea life in miniature

All Complete

Finding NEMOs..

Miss Linda A.C.T.I On !

Kepiting Laba-Laba Raksasa..
Aseli yang ini emang guede.

Ini kepiting laba-laba yang sudah diawetkan, kawan.

Foto-foto lagi sebelum beranjak ke pantai Ancol

Girls play out !!

Cheers,
Nita  

Europe On Screen 2014 Jakarta

Sabtu, 3 Mei 2014 aku pergi bertualang ke Erasmus Huis, sebuah pusat kursus bahasa Belanda di daerah Jakarta yang masih satu kompleks dengan kedutaan Belanda. Hari ini disana ada acara Europe On Screen, yang merupakan acara tahunan untuk memutarkan film-film Eropa terbaik. Film Eropa saya rasa berbeda dari film buatan Amerika karena memiliki alur yang kadang sulit dicerna dan bertempo lambat. Ajang EOS ini bisa jadi adalah ajang untuk berburu nonton film gratisan yang diadakan tiap tahun. Perjalanan dimulai sekitar pukul 9. Aku berangkat dari rumah dengan dandanan yang sudah keceh abiz, hehe.. Sebelumnya aku memastikan petualanganku kali ini akan ditemani dengan rekanku Riny, yang bersama diriku ke Jogja tahun lalu. Ia berangkat dari rumahnya yang berada di Jakarta Utara. Sekitar pukul sepuluh, ketika aku baru duduk di dalam bis Bekasi – Tanah Abang untuk menuju komdak, whatsapp ku pun berbunyi. Rupanya Riny mengabari bahwa ia sudah sampai di Erasmus Huis, tempat pemutaran film tersebut berlangsung. Memang jalanan di Sabtu pagi itu cukup lengang, jadi perjalanan Riny pun bisa cepat sampai. Ia bilang memang kalau jalanan Jakarta di hari libur seperti Sabtu ini memang akan “tandus” karena Jakarta kan memang daerah perkantoran. Jadi di hari libur, aktivitas di jalanan pun pasti tidak akan semacet hari kerja. 

Aku pun tiba di Erasmus sekitar pukul 10.30 dan tidak terlalu sulit untuk menemukan tempatnya. Aku naik kopaja 66 dari komdak lalu bilang ke sopir dan keneknya untuk minta diturunkan di kedutaan India yang terletak bersebelahan dengan Kedutaan Belanda. Orang sana sepertinya lebih familiar dengan kedutaan India karena film-film Indianya. Kalo gak salah, disana juga suka diputar film-film India dan masyarakat umum boleh menontonnya secara gratis lho. Setelah turun dari kopaja, akupun segera mencari pintu masuk dan bertanya ke satpam juga untuk memastikan. Ia menanyakan tujuan kedatanganku, dan setelahnya mempersilahkan aku masuk. Sebelumnya aku harus melalui pemeriksaan metal detektor dan scanning tas. Memang ketat sekali ya, namanya juga kedutaan, so pasti mesti ketat. Setelah melalui pemeriksaan aku pun dipersilahkan masuk ke area Erasmus Huis. Ada dua pintu masuk disana. Kalo ke kanan itu ke gedung pusat bahasanya yaitu Erasmus, sementara kalo ke kiri itu untuk menuju kompleks kedutaan Belanda. Setelah itu aku langsung bertemu dengan temanku Riny yang sedang duduk santai di bangku taman. Disana banyak sekali bangku untuk duduk-duduk santai. Aku dan Riny pun langsung ngobrol-ngobrol sembari menunggu antriannya dibuka.

Ada si kodok yang bikin gemes..

 Ini dia pusat bahasanya, Erasmus Taalcentrum..

 Tamannya luas dan tertata rapi.

 Di bagian belakang terdapat ruang terbuka yang bisa dijadikan sebagai area pertunjukan seni dan orkestra.

 Selfie mode on

Area Open Air Screening
Area ini sudah disiapkan untuk gelaran nonton bareng EOS nanti malem.

Sembari menunggu antrian dibuka, aku dan Riny berkeliling di dalam ruang pameran dan melihat ada sebuah perpustakaan. Saat aku mau masuk ke dalam ruang perpusnya, tiba-tiba ibu penjaganya menegorku. Ia mengatakan kalo yang bisa masuk ke dalam hanya anggota perpustakaannya saja. Dan jika ingin menjadi anggota perpusnya cukup membayar biaya keanggotaan sebesar 30 ribu rupiah saja kalo tidak salah. Lalu aku dan Riny jadi mengurungkan niat untuk melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang perpustakaan itu. Kami berjalan-jalan di dalam ruang pameran dan melihat berbagai foto yang sedang dipamerkan. Kali ini tema pamerannya adalah “Memories from Borneo”. Foto-foto tersebut diambil oleh ahli geologi Swiss bernama Wolfgang Leupold dan mengambil setting foto-foto Kalimantan dari tahun 1921-1927. Aku dan Riny jadi banyak berdiskusi tentang foto-foto ciamik yang dipamerkan disana.

Me and Riny

Setelah itu pintu antrian pun dibuka, dan kami melakukan proses registrasi dengan mencatat nama kami di buku pengunjung. Satu tiket hanya untuk satu penonton. Itulah aturannya. Jadi tidak bisa nitip-nitip. Setelah itu kami memilih bangku yang paling nyaman dan mulai menonton film pertama yaitu Ernest dan Celestine. Film kartun dari Perancis ini memang yang menjadi incaranku. Dan benar ternyata, film ini benar-benar menghibur kami semua yang nonton dan memberi pesan moral yang dalam tentang arti sebuah persahabatan. Gambarnya pun dibuat sederhana seperti lukisan cat air yang kita lihat kalo kita sedang membaca sebuah buku gambar. Sederhana tapi bagus. Jalan ceritanya juga gak membosankan. Walaupun di tengah-tengah terdapat kesalahan teknis yaitu gambarnya yang macet dan lumayan bikin kecewa, tapi itu tidak terlalu kami pikirkan lagi. Terbukti di akhir filmnya, kami semua yang nonton memberikan tepuk tangan yang gemuruh sebagai apresiasi untuk film tersebut. Dan aku pun juga jadi mendownloadnya sepulang dari sana. Karena aku ingin nonton lagi film yang bagus dan lucu itu.

 Suasana di dalam teater sebelum film diputar.
Beberapa warga asing juga menjadi penonton dalam ajang Festival Film Eropa ini.
 Salah satunya berada di depan kursi kami. ^^

Sebelum nonton, foto-foto lagi dunk!

Setelah film pertama selesai, dilanjutkan dengan jeda istirahat selama satu jam sebelum memasuki film kedua. Aku dan Riny pun segera mencari makan di luar, karena perut ku sudah keroncongan. Kami berjalan menyusuri pinggiran jalan di sekitar area kedutaan Belanda tersebut. Finally, kami hanya menemukan tukang mie ayam dan ada juga tukang siomay yang nangkring tepat di depan gedung. Sebenarnya ada restoran Hema (restoran masakan Belanda) yang terletak di dalam area kompleks Erasmus, tapi kami memutuskan untuk makan mie ayam yang di pinggir jalan saja (murmer ciiinnnn...)

Ada restoran HEMA di dalam kompleks kedutaan ini.

Setelah kenyang, kami masuk lagi ke dalam gedung itu untuk menunggu sampai antrian film kedua di buka. Ketika kami sedang duduk-duduk di salah satu kursi di halaman gedung dekat Hema, kami dihampiri oleh seorang wanita. Rupanya wanita itu adalah salah satu dari staff festival film tersebut. Dia memberi tau kepada pengunjung yang sedang menunggu di luar untuk masuk ke dalam gedung, karena antrian filmnya sudah akan dibuka. Kami masuk ke dalam gedung dan setelah mengantri tiket, kami lihat ternyata ruang di sebelah teater tersebut pintunya dibuka. Para pengunjung festival juga dipersilahkan masuk. Wow, ternyata di dalam disediakan jamuan makanan ringan dan minuman untuk para pengunjung. Ada roti seperti roti prancis yang atasnya di beri hiasan krim gitu. Aku juga kurang tau namanya apa, tapi yang jelas makanan itu tersaji dalam porsi bisa dimakan satu suapan masuk ke dalam mulut. Ada juga anggur hijau yang rasanya manis. Untuk minumannya aku pun tidak kalah bereksperimen. Disana tersaji wine dan jus jeruk. Aku pun mencoba wine untuk pertama kali. Rasanya pait dan setelah meminumnya membuat tenggorokan ku terasa hangat. Tapi bagi peminum non alkohol, bisa minum jus jeruk buavita yang tersaji disana. Kalo aku sih minum dua-duanya, mumpung gratis, hehe.. Oh iya, acara ini berarti bisa jadi ajang berburu wine gratisan juga ya selain untuk nonton gratisan. Mantaps! Hehehe.. Disana juga banyak kulihat kaum ekspatriat yang menjadikan event EOS ini sebagai ajang kumpul-kumpul. Kulihat para bule tersebut meneguk gelas wine itu dengan asik, karena minum wine kan memang sudah jadi kebiasaan di negara mereka untuk menghangatkan badan. Dan sebenarnya aku pun ingin foto-foto makanannnya juga, tapi jadi agak malu, karena di jamuan itu banyak orang-orang asingnya. Tapi akhirnya satu dua jepret sih dapet. Cuman sayang, pengen foto botol winenya belum kesampaian. Huah..

Para ekspatriat juga menjadikan EOS 2014 ini sekalian sebagai ajang gathering mereka. 

Aku cobain ini juga lho. Ada yang tau namanya apa ??

Setelah selesai dijamu dengan makanan ringan dan minuman, film kedua pun dimulai dan kami pun segera masuk ke dalam teater. Film kedua bercerita tentang autobiografi seorang tokoh pembela hak tenaga buruh di Polandia. Karena semi dokumenter gitu, jadi ceritanya lumayan berat. Tidak seperti film anak-anak yang lucu nan menghibur tadi. Walaupun begitu, ada beberapa part dari jalan ceritanya yang menggelitik dan membuat tertawa juga. Setelah filmnya berakhir sekitar pukul setengah 5 sore, kami pun langsung beranjak pulang menuju rumah kami masing-masing. Aku dan Riny menghabiskan waktu yang menyenangkan hari itu. Petualangan main ke Erasmus Huis, nonton dan makan gratisan ini pastinya tidak akan kulupakan. Btw, minggu depannya pun aku kembali mengunjungi festival film Eropa di Goethe Institut yang terletak di daerah Menteng. Festival film ini merupakan acara tahunan yang diadakan sekitar semingguan saja. Jadi ketika ada kesempatan dan ada waktunya, pastinya tidak akan kulewatkan. Di Goethe House yang merupakan tempat kursus bahasa Jerman tersebut, kami nonton dua buah film lagi seperti minggu lalu. Yang pertama itu film anak-anak yang menghibur, dan yang satunya lagi adalah film dokumenter. Senangnya,, pengalaman nonton EOS berhasil juga kesampaian tahun ini. ^^ 

 Berfoto di depan plakat Erasmus Huis gak boleh ketinggalan dong..

  EOS 2014, thank you.. !!

 Hasil rampokan disana.. :p

Ernest & Celestine dan Walesa.
Dua film berkualitas dari sekian banyak film terbaik yang diputar di ajang EOS 2014

Bulan depan bakal ada kidsfest lagi nih kawan yaitu festival film Eropa yang memutarkan khusus film anak-anak. Mudah-mudahan bisa dateng lagi dan menonton film yang bagus-bagus seperti tahun kemarin. Amin.

Cheers,

Nita
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...